KEJARLAH ILMU SAMPAI KE NEGERI CINA

“Jadilah manusia yang pada kelahiranmu semua orang tertawa bahagia, tetapi hanya kamu sendiri yang menangis dan pada kematianmu semua orang menangis sedih, tetapi hanya kamu sendiri yang tersenyum”

(Mahatma Gandhi)

Minggu, 15 April 2012

HURDLE TECHNOLOGY

PENDAHULUAN

Teknik-teknik pengawetan utama didasarkan pada penundaan atau pertumbuhan mikroba melalui pencegahan, dengan menggunakan faktor-faktor yang paling mempengaruhi pertumbuhan dan kelangsungan hidup mikroorganisme, suhu , aktivitas air, Oksidasi potensial reduksi. penggunaan faktor penghambat dalam kombinasi dapat menguntungkan terutama dengan memungkinkan penggunaan yang kurang ekstrim dari setiap pengobatan tunggal (1) Leistner (2,3) memperkenalkan efek  untuk menggambarkan bahwa dalam makanan yang paling  tradisional  kombinasi dari beberapa faktor Itu tidak harus diatasi oleh  mikroorganisme hadir untuk stabilitas dan keamanan mikroba  makanan. rintangan Konsepnya adalah interaksi kompleks dari suhu, Ph, dan sebagainya. yang signifikan terhadap mikroba makanan. Aplikasi ini merupakan  metode gabungan sinonim disebut gabungan yang disebut dengan Kombinasi pelestarian, teknik kombinasi, teknologi penghalang, untuk meningkatkan kualitas produk dan mengidentifikasi kemungkinan produk makanan dari pembusukan dan kontaminasi makanan oleh mikroorganisme seperti dalam masalah penting di seluruh dunia meskipun berbagai tecniques pelestarian yang digunakan. permintaan konsumen saat ini untuk makanan yang kurang renteng Olahan, aditif-mengurangi, alami dan segar meminta produsen makanan untuk memilih teknik pelestarian ringan. Tantangan komersial tersebut mewajibkan para industry pengolahan dalam proses mengolah makanan minimal harus diproses sebagai motif kuat untuk mempelajari sistem pengawetan makanan menggabungkan mikroba vacture stres tradisional , Sementara meningkatkan variabel baru untuk pengendalian mikroba seperti intensitas tekanan tinggi tinggi, Isolasi , kimia dan biokimia. pemahaman yang lebih baik dari  kombinasi dengan rintangan tradisional yang ada segera diperlukan, sehingga kemungkinan pelestarian baru dapat bergerak maju dengan dasar ilmiah yang kuat karena, kemungkinan besar, menggabungkan teknologi adalah masa depan pengawetan makanan.

 TINJAUAN PUSTAKA
2.1   Pengawetan
Secara garis besar pengawetan dapat dibagi dalam 3 golongan yaitu :
1.      PENGAWETAN SECARA ALAMI
Proses pengawetan secara alami meliputi pemanasan dan pendinginan.
2.      PENGAWETAN SECARA BIOLOGIS
Proses pengawetan secara biologis misalnya dengan peragian (fermentasi). Peragian (Fermentasi) Merupakan proses perubahan karbohidrat menjadi alkohol. Zat-zat yang bekerja pada proses ini ialah enzim yang dibuat oleh sel-sel ragi. Lamanya proses peragian tergantung dari bahan yang akan diragikan.
a.       Enzim
Enzim adalah suatu katalisator biologis yang dihasilkan oleh sel-sel hidup dan dapat membantu mempercepat bermacam-macam reaksi biokimia. Enzim yang terdapat dalam makanan dapat berasal dari bahan mentahnya atau mikroorganisme yang terdapat pada makanan tersebut. Bahan makanan seperti daging, ikan susu, buah-buahan dan biji-bijian mengandung enzim tertentu secara normal ikut aktif bekerja di dalam bahan tersebut. Enzim dapat menyebabkan perubahan dalam bahan pangan. Perubahan itu dapat menguntungkan ini dapat dikembangkan semaksimal mungkin, tetapi yang merugikan harus dicegah. Perubahan yang terjadi dapat berupa rasa, warna, bentuk, kalori, dan sifat-sifat lainnya. Beberapa enzim yang penting dalam pengolahan daging adalah bromelin dari nenas dan papain dari getah buah atau daun pepaya.
 b.      Enzim Bromalin
Didapat dari buah nenas, digunakan untuk mengempukkan daging. Aktifitasnya dipengaruhi oleh kematangan buah, konsentrasi pemakaian, dan waktu penggunaan. Untuk memperoleh hasil yang maksimum sebaiknya digunakan buah yang muda. Semakin banyak nenas yang digunakan, semakin cepat proses bekerjanya.
c.       Enzim Papain
Berupa getah pepaya, disadap dari buahnya yang berumur 2,5~3 bulan. Dapat digunakan untuk mengepukan daging, bahan penjernih pada industri minuman bir, industri tekstil, industri penyamakan kulit, industri pharmasi dan alat-alat kecantikan (kosmetik) dan lain-lain. Enzim papain biasa diperdagangkan dalam bentuk serbuk putih kekuningan, halus, dan kadar airnya 8%. Enzim ini harus disimpan dibawah suhu 60°C. Pada 1 (satu) buah pepaya dapat dilakukan 5 kali sadapan. Tiap sadapan menghasilkan + 20 gram getah. Getah dapat diambil setiap 4 hari dengan jalan menggoreskan buah tersebut dengan pisau.
3.      PENGAWETAN SECARA KIMIA
Menggunakan bahan-bahan kimia, seperti gula pasir, garam dapur, nitrat, nitrit, natrium benzoat, asam propionat, asam sitrat, garam sulfat, dan lain-lian. Proses pengasapan juga termasuk cara kimia sebab bahan-bahan kimia dalam asap dimasukkan ke dalam makanan yang diawetkan. Apabila jumlah pemakainannya tepat, pengawetan dengan bahan-bahan kimia dalam makanan sangat praktis karena dapat menghambat berkembangbiaknya mikroorganisme seperti jamur atau kapang, bakteri, dan ragi.
    1. Asam propionat (natrium propionat atau kalsium propionat)
      Sering digunakan untuk mencegah tumbuhnya jamur atau kapang. Untuk bahan tepung terigu, dosis maksimum yang digunakan adalah 0,32 % atau 3,2 gram/kg bahan; sedngkan untuk bahan dari keju, dosis maksimum sebesar 0,3 % atau 3 gram/kg bahan.
    2. Asam Sitrat (citric acid)
      Merupakan senyawa intermedier dari asam organik yang berbentuk kristal atau serbuk putih. Asam sitrat ini maudah larut dalam air, spriritus, dan ethanol, tidak berbau, rasanya sangat asam, serta jika dipanaskan akan meleleh kemudian terurai yang selanjutnya terbakar sampai menjadi arang. Asam sitrat juga terdapat dalam sari buah-buahan seperti nenas, jeruk, lemon, markisa. Asam ini dipakai untuk meningkatkan rasa asam (mengatur tingkat keasaman) pada berbagai pengolahan minum, produk air susu, selai, jeli, dan lain-lain. Asam sitrat berfungsi sebagai pengawet pada keju dan sirup, digunakan untuk mencegah proses kristalisasi dalam madu, gula-gula (termasuk fondant), dan juga untuk mencegah pemucatan berbagai makanan, misalnya buah-buahan kaleng dan ikan. Larutan asam sitrat yang encer dapat digunakan untuk mencegah pembentukan bintik-bintik hitam pada udang. Penggunaan maksimum dalam minuman adalah sebesar 3 gram/liter sari buah.
    3. Benzoat (acidum benzoicum atau flores benzoes atau benzoic acid)
      Benzoat biasa diperdagangkan adalah garam natrium benzoat, dengan ciri-ciri berbentuk serbuk atau kristal putih, halus, sedikit berbau, berasa payau, dan pada pemanasan yang tinggi akan meleleh lalu terbakar
    4. Bleng
      Merupakan larutan garam fosfat, berbentuk kristal, dan berwarna kekuning-kuningan. Bleng banyak mengandung unsur boron dan beberapa mineral lainnya. Penambahan bleng selain sebagai pengawet pada pengolahan bahan pangan terutama kerupuk, juga untuk mengembangkan dan mengenyalkan bahan, serta memberi aroma dan rasa yang khas. Penggunaannya sebagai pengawet maksimal sebanyak 20 gram per 25 kg bahan. Bleng dapat dicampur langsung dalam adonan setelah dilarutkan dalam air atau diendapkan terlebih dahulu kemudian cairannya dicampurkan dalam adonan.
    5. Garam dapur (natrium klorida)
Garam dapur dalam keadaan murni tidak berwarna, tetapi kadang-kadang berwarna kuning kecoklatan yang berasal dari kotoran-kotoran yang ada didalamnya. Air laut mengandung + 3 % garam dapur.
Garam dapur sebagai penghambat pertumbuhan mikroba, sering digunakan untuk mengawetkan ikan dan juga bahan-bahan lain. Pengunaannya sebagai pengawet minimal sebanyak 20 % atau 2 ons/kg bahan.
    1. Garam sulfat
Digunakan dalam makanan untuk mencegah timbulnya ragi, bakteri dan warna kecoklatan pada waktu pemasakan.
    1. Gula pasir
Digunakan sebagai pengawet dan lebih efektif bila dipakai dengan tujuan menghambat pertumbuhan bakteri. Sebagai bahan pengawet, pengunaan gula pasir minimal 3% atau 30 gram/kg bahan.
    1. Kaporit (Calsium hypochlorit atau hypochloris calsiucus atau chlor kalk atau kapur klor)Merupakan campuran dari calsium hypochlorit, -chlorida da -oksida, berupa serbuk putih yang sering menggumpal hingga membentuk butiran. Biasanya mengandung 25~70 % chlor aktif dan baunya sangat khas. Kaporit yang mengandung klor ini digunakan untuk mensterilkan air minum dan kolam renang, serta mencuci ikan.
    2. Natrium Metabisulfit
Natrium metabisulfit yang diperdagangkan berbentuk kristal. Pemakaiannya dalam pengolahan bahan pangan bertujuan untuk mencegah proses pencoklatan pada buah sebelum diolah, menghilangkan bau dan rasa getir terutama pada ubi kayu serta untuk mempertahankan warna agar tetap menarik.
Natrium metabisulfit dapat dilarutkan bersama-sama bahan atau diasapkan. Prinsip pengasapan tersebut adalah mengalirkan gas SO2 ke dalam bahan sebelum pengeringan. Pengasapan dilakukan selama + 15 menit. Maksimum penggunaannya sebanyak 2 gram/kg bahan. Natrium metabisulfit yang berlebihan akan hilang sewaktu pengeringan.
    1. Nitrit dan Nitrat
Terdapat dalam bentuk garam kalium dan natrium nitrit. Natrium nitrit berbentuk butiran berwarna putih, sedangkan kalium nitrit berwarna putih atau kuning dan kelarutannya tinggi dalam air.
Nitrit dan nitrat dapat menghambat pertumbuhan bakteri pada daging dan ikan dalam waktu yang singkat. Sering digunakan pada danging yang telah dilayukan untuk mempertahankan warna merah daging.Jumlah nitrit yang ditambahkan biasanya 0,1 % atau 1 gram/kg bahan yang diawetkan. Untuk nitrat 0,2 % atau 2 gram/kg bahan. Apabila lebih dari jumlah tersebut akan menyebabkan keracunan, oleh sebab itu pemakaian nitrit dan nitrat diatur dalam undang-undang. Untuk mengatasi keracunan tersebut maka pemakaian nitrit biasanya dicampur dengan nitrat dalam jumlah yang sama. Nitrat tersebut akan diubah menjadi nitrit sedikit demi sedikit sehingga jumlah nitrit di dalam daging tidak berlebihan.
    1. Sendawa
      Merupakan senyawa organik yang berbentuk kristal putih atau tak berwarna, rasanya asin dan sejuk. Sendawa mudah larut dalamair dan meleleh pada suhu 377°C. Ada tiga bentuk sendawa, yaitu kalium nitrat, kalsium nitrat dan natrium nitrat. Sendawa dapat dibuat dengan mereaksikan kalium khlorida dengan asam nitrat atau natrium nitrat. Dalam industri biasa digunakan untuk membuat korek api, bahan peledak, pupuk, dan juga untuk pengawet abahn pangan. Penggunaannya maksimum sebanyak 0,1 % atau 1 gram/kg bahan.
    2. Zat Pewarna
Zat pewarna ditambahkan ke dalam bahan makanan seperti daging, sayuran, buah-buahan dan lain-lainnya untuk menarik selera dankeinginan konsumen. Bahan pewarna alam yang sering digunakan adalah kunyit, karamel dan pandan. Dibandingkan dengan pewarna alami, maka bahan pewarna sintetis mempunyai banyak kelebihan dalam hal keanekaragaman warnanya, baik keseragaman maupun kestabilan, serta penyimpanannya lebih mudah dan tahan lama. Misalnya carbon black yang sering digunakan untuk memberikan warna hitam, titanium oksida untuk memutihkan, dan lain-lain. Bahan pewarna alami warnanya jarang yang sesuai dengan yang dinginkan.

2.2.   PROSES BEBAS KUMAN
Ada dua cara proses bebas kuman, yaitu sterilisasi dan pasteurisasi
  • Sterilisasi
    Adalah proses bebas kuman, virus, spora dan jamur. Keadaan steril ini dapat dicapai dengan cara alami maupun kimiawi. Secara alami dapat dilakukan dengan:
    • memanaskan alat-alat dalam air mendidih pada suhu 100oC selama 15 menit, untuk mematikan kuman dan virus;
    • memanaskan alat-alat dalam air mendidih pada suhu 120 oC selama 15 menit untuk mematikan spora dan jamur.
      Secara kimiawi dapat dilakukan dengan menggunakan antiseptik dan desinfektan.
      1. Antiseptik
        Merupakan zat yang dapat menghambat atau membunuh pertumbuhan jasad renik seperti bakteri, jamur dan lain-lain pada jaringan hidup. Ada beberapa bahan yang sering digunakan sebagai antiseptik, antara lain:
        1. Alkohol, efektif digunakan dengan kepekatan 50~70 %;untuk memecah protein yang ada dalam kuman penyakit sehingga pertumbuhannya terhambat.
        2. Asam dan alkali, penggunaannya sama dengan alkohol.
        3. Air raksa (hidrargirum=Hg), arsenikum (As) dan Argentum (Ag), yang bekerja melalui sistem enzim pada kuman penyakit.
        4. Pengoksida, juga bekerja pada sistem enzim kuman penyakit. Terdiri dari iodium untuk desinfektan kulit dan chlor untuk desinfektan air minum.
        5. Zat warna, terutama analin dan akridin yang dipakai untuk mewarnai kuman penyakit sehingga mudah untuk menemukan jaringan mana dari kuman tersebut yang akan dihambat pertumbuhannya.
        6. Pengalkil, yang digunakan untuk memecah protein kuman sehingga aktifitasnya terhambat. Contohnya adalah formaldehid.
      2. Desinfektan
        Merupakan bahan kimia yang digunakan untukmencegah terjadinya infeksi atau pencemaran jasad renik seperti bakteri dan virus, juga untuk membunuh kuman penyakit lainnya. Jenis desinfektan yang biasa digunakan adalah chlor atau formaldehid. Jenis ini lebih efektif bila dicampur dengan air terutama dalampembuatan es. Untuk menjaga kualitas ikan penggunaan chlor sebanyak 0,05 % atau 0,5 gram/liter air sangat efektif
·         Pasteurisasi
Dilakukan dengan memanaskan tempat yang telah diisi makanan atau minuman dalam air mendidih pada suhu sekurang-kurangnya 63°C selama 30 menit, kemudian segera diangkat dan didinginkan hingga suhu maksimum 10°C. Dengan cara ini maka pertumbuhan bakteri dapat dihambat dengan cepat tanpa mempengaruhi rasa makanan dan minuman

 BAB III
PEMBAHASAN
3.1. Stabilitas Mikroba Pada Bebuahan yang Diawetkan Dengan Teknologi Kombinasi
            Bahan pangan setengah lembab memiliki kadar air yang lebih tinggi dibandingkan bahan pangan kering dan tetap stabil walaupun tanpa pendingin. Bahan pangan setengah lembab adalah suatu makanan yang mempunyai kadar air tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu rendah yaitu 15-50 %, tetapi makanan ini dapat tahan lama selama penyimpanan. Aw dari bahan pangan tersebut berkisar antara 0,60-0,85. Jenis makanan ini kira-kira 10 tahun yang lalu dibuat khusus untuk makanan anjing atau kucing, karena binatang-binatang ini tidak suka makanan yang terlalu kering (keras) atau lunak seperti bubur. Akan tetapi, sekarang telah banyak dibuat makanan setengah lembab untuk manusia. Chirife dan Favetto melaporkan, aw minimal untuk pertumbuhan Staphylococcus aureus adalah 0.85. Oleh karena itu, untuk membuat makanan setengah lembab yang tahan selama penyimpanan, kadar air makanan tersebut dibuat menjadi 15-50 %, juga aw makanan harus di bawah 0.85 untuk mencegah pertumbuhan bakteri, dan harus ditambahkan bahan-bahan pengawet untuk mencegah pertumbuhan ragi dan cendawan. Bahan-bahan yang biasa digunakan dalam pembuatan makanan setengah lembab adalah (1) beberapa macam gula, misalnya sukrosa, dektrosa, fruktosa, laktosa, maltosa, (2) alkohol polihidrat misalnya sorbitol, gliserin, manitol, propilen glikol, (3) garam-garam netral, misalnya natrium khlorida, dan (4) beberapa asam atau basa. Faktor-faktor yang harus diperhatikan di dalam pemilihan bahan-bahan tersebut adalah flavor, kelarutan, berat molekul, ionisasi, nilai gizi, pH, pengaruhnya terhadap bahan-bahan lain, daya awet, dan sebagainya.
            Konsep teknologi kombinasi pertama kali diperkenalkan pada produk daging, namun saat ini telah berhasil diaplikasikan pada beberapa produk lain seperti yang dilaporkan Leistner. Kondisi makanan stabil memiliki aw 0,90-0,95 dan membutuhkan teknologi pengawetan yang dapat mengendalikan aktivitas mikroba. Leistner telah mempelajari selama bertahun-tahun mengenai kestabilan dan makanan setengah lembab yang berbasis pada daging. Leistner (26) defined shelf-stable meat products (SPP) as high-moisture meats (a w > 0.90) storable at room temperature after a mild heat treatment (70-110 0 C core temperature) in sealed containers. Dia mengungkapkan bahwasanya kestabilan produk daging adalah pada aw > 0.90 yang dapat disimpan pada suhu kamar setelah perlakuan panas ringan (700C-110 0 C ) dalam wadah tertutup. The process offers the following adventages : the mild heat treatment improves the sensory and nutritional properties of the SSP : the lack of refrigeration simplifies distribution and saves energy during storage : the required a w is not as low for IMF, and thus fewer solutes or less drying of the product is necessary (26). Proses ini memberikan keuntungan : meningkatkan sifat sensori dan gizi dari makanan, kurangnya pendinginan menyederhanakan distribusi dan menghemat energi selama penyimpanan, kebutuhan aw tidak terlalu rendah untuk makanan setengah lembab, dan zat terlarut atau sebagian kecil dari yang dibutuhkan produk kering.
            Prinsip yang digunakan oleh Leistner untuk kelembapan yang stabil pada daging adalah aw > 0.90, dimana hanya perlakuan panas ringan yang digunakan, dapat juga diaplikasikan pada beberapa produk yang lain. Buah-buahan  merupakan salah satu contoh yang tepat menggunakan teknologi kombinasi ini.
In the case of IMF, the a w restricts potential microbial spoilage to a narrow list of organisms, mainly fungi, that tolerate low a w Pada makanan setengah lembab aw dapat mencegah terjadinya pembusukan oleh mikroba terutama jamur yang bisa tumbuh pada aw rendah. Agar makanan tersebut menjadi stabil tanpa pendinginan maka penambahan pengawet dapat memberikan keamanan. Many of the considerations on the significance of microorganisms in IMF are made in terms of a w limits for growth. Banyak pertimbangan pentingnya mikroorganisme pada makanan setengah lembab dalam batas-batas aw tertentu untuk pertumbuhannya. However, microbial control in IMF depends not only on a w but on pH, redox potential, thermal treatments, preservatives, and so forth, which also exert an importans effect on the flora (31). Namun, kontrol mikroba dalam makanan tersebut tidak hanya tergantung  pada aw saja, akan tetapi pada pH, potensial redoks, perlakuan panas,  pengawet, dan sebagainya. Leistner and Rodel (2) indicated that the pH of IMFshould be as low as palatability permitted and, whenever possible, below pH  Leistner dan Rodel mengindikasikan bahwa pH untuk makanan setengah lembab di bawah 5,0. However, the number of foods in which this can be applied is limited because pH cannot be reduced without flavor impairmNamun, pada sejumlah makanan tidak dapat diterapkan karena pengurangan pH dapat mengganggu flavor.
Fruits are a good example of foods that can tolerate pH redustion without affecting flavor sig              Buah merupakan contoh yang baik dari makanan yang dapat mentolerir pengurangan  pH tanpa mempengaruhi flavor secara signifikan. Important developments in IMF preservation based on fruits and vegetables are reported (32-34)Pemahaman prinsip-prinsip yang menjamin stabilitas mikroba pada beberapa makanan setengah lembab dan pengetahuan tentang faktor kombinasi dapat digunakan untuk mengembangkan produk buah-buahan baru berdasarkan teknologi yang dipilih. Pada In the case of fruits, if fresh-like quality is the gbuah kondisi segar merupakan tujuan. a w reduction by addition of humectants should be employed at a minimum level to maintain the product in the high moisture range (35Pengurangan aw dengan penambahan zat pengawet harus digunakan pada tingkat minimum untuk menjaga produk dalam rentang kelembaban tinggi. To compensate, in terms of stability, for the high moisture of the product, a blanching treatment can be applied with minimal effects on sensory and nutritional properties: pH reductions that will not result in flavor impairment can be employed: and , finally, permitted preservatives can be used to reduce the risk of spoilagDalam hal stabilitas, untuk kelembaban tinggi produk, blansing dapat diterapkan dengan efek minimal pada sifat sensoris dan gizi, pengurangan pH yang tidak mengakibatkan gangguan rasa dapat digunakan, dan pengawet digunakan untuk mengurangi risiko pembusukan. The combination of the mentioned factors, placed in the context of the hurdle technology principles applied to fruits, make up an interesting alternative to traditional IMF fruits (31,35). Kombinasi faktor-faktor tersebut, ditempatkan dalam konteks prinsip-prinsip teknologi terapan pada buah-buahan merupakan alternatif yang menarik.
For the selection of the hurdles and their levels, it is necessary to know the characteristics of the fruit to be processed and the characteristics of the desired product.            Untuk pemilihan teknologi pengawetan, perlu mengetahui karakteristik buah yang akan diproses. Based on the hurdle technology, a combination of factors that control microbial growth and maintain the fruit's organoleptic characteristics must be selectBerdasarkan pada teknologi ini, kombinasi dari faktor-faktor yang mengontrol pertumbuhan mikroba dan mempertahankan karakteristik organoleptik buah harus dipilih. The large majority of fruits are high-acid products, though certain fruits have a high pH (eg, banana, melon, mamey, fig, and papaya). Sebagian besar buah-buahan tinggi kandungan asamnya, meskipun buah-buahan tertentu memiliki pH tinggi (misalnya, pisang, melon, mamey, ara, dan pepaya). The low pH and the nature of the organic acid molecule select for the growth of acid-tolerant microorganisms, such as fungi (predominantly molds) and lactic acid bacteria (36). PH rendah dan sifat dari molekul asam organik dipilih untuk pertumbuhan mikroorganisme yang toleran asam, seperti jamur (terutama kapang) dan bakteri asam laktat. Based on this and on consumer demand for more fresh-like products, for the new technologies for fruit preservation developed as part of two multinationall Iberoamerican projects the hurdle a w was selected to be in the range 0.93-0.98 and the pH was maintained equal to or near the pH value of the fresh fruit (pH 3.0-4.1) (36Berdasarkan hal ini, untuk teknologi baru pada pengawetan buah menetapkan aw di kisaran 0,93-0,98 dan pH dipertahankan sama dengan atau dekat dengan nilai pH buah segar (pH 3,0-4,1). Table 1 presents some of fruits preserved by these combined techniques applying the hurdle concept and the inhibition factors used. Tabel 1 menyajikan beberapa buah yang diawetkan dengan teknologi kombinasi.
Tabel 1. Teknologi Inovasi pada Pengawetan Buah
Buah
(irisan/utuh)
Faktor perlakuan
Suhu Penyimpanan
(o C)
Umur Simpan
 (bulan)
Persik (belahan)


Persik (belahan)




Nenas (irisan/utuh)





Nenas (irisan)





Mangga





Pepaya





Pepaya





Fig





Strawberi







Pomalaca






Bubur pisang






Mangga





Pepaya




Kismis




Markisa





Markisa






Asam jawa





 
Blansing (kukus, 2 menit),
a w=0,98 (surosa)
pH= 3,7
NaHSO 3= 150 ppm
KS= 1000 ppm

Blansing (kukus, 2 menit)
Aw= 0,94 (glukosa)
pH= 3,5
NaHSO 3= 150 ppm
KS= 1000 ppm

Blansing (kukus)
Aw= 0,97 (sukrosa)
pH= 3,1
NaHSO 3= 150 ppm
KS= 1000 ppm

Blansing (kukus)
Aw=0,97 (sukrosa)
pH=3,8
NaHSO 3= 150 ppm
KS= 1000 ppm

Blansing (kukus,4 menit)
Aw= 0,97 (sukrosa)
pH=3,0
NaHSO 3= 150 ppm
KS= 1000 ppm

Blansing (kukus, 30 detik)
Aw= 0,98 (sukrosa)
pH=3,5
NaHSO 3= 150 ppm
KS= 1000 ppm

Blansing (kukus,4 menit)
Aw= 0,98 (sukrosa)
pH=3,5
NaHSO 3= 150 ppm
KS= 1000 ppm

Blansing (80 0C, 5 menit)
Aw= 0,95 (sukrosa)
pH=3,0
NaHSO 3= 2 % dr BB
KS= 1000 ppm

Blansing (kukus,1 menit)
Aw= 0,97 (sukrosa) atau
Aw=0,95 (glukosa)
pH=3,1
AA= 200 ppm
NaHSO 3= 150 ppm
KS= 1000 ppm

Blansing (85 0C, 5 menit)
Aw= 0,97 (sukrosa)
pH=3,5
SO2= 180 ppm
KS= 1000 ppm
Pengisian panas

Blansing (kukus,1 menit)
Aw= 0,97 (glukosa)
pH=3,4
NaHSO 3= 400 ppm
KS= 100 ppm
Panas ringan (100 0C, 11)

Blansing (80 0C, 10 menit)
Aw= 0,985 a
pH=3,6
SMB= 150 ppm
SB= 1000 ppm

Blansing (kukus,3 menit)
Aw= 0,98 (sukrosa)
pH=4,1
KS= 1000 ppm

Blansing (kukus,3 menit)
Aw= 0,98 (sukrosa)
pH=3,0
KS= 1000 ppm

Blansing (kukus,3 menit)
Aw= 0,98 (sukrosa)
pH=3,0
SO2= 150 ppm
KS= 400 ppm

Aw= 0,94(sukrosa)
pH=3,4
Perlakuan panas(85 0C,2 menit)
Na2S2O 3= 150 ppm
KS= 1500 ppm
Perlakuan panas (60 0C)

Aw= 0,96 (sukrosa)
pH=2,5
Perlakuan panas(85 0C,2 menit)
Na2S2O 3= 150 ppm
KS= 1500 ppm
Pengisian panas (60 0C)
35




20 atau 30





27





35
25




35





25





35





35





25







35






27






30-35





35




25




30





35






35
3





4





4





3
8




4,5





5





3,5





3





4







3






3,5






3





4




4




4





6






6
Aw = water activity, KS = kalium sorbate, AA = ascorbic acid, SB = sodium benzoate, SMB = sodium metabisulfite.
a aw dari buah segar.
            Penambahan pengawet, seperti asam lipofilik lemah (yaitu sorbat atau asam benzoat) dapat menghambat terjadinya pembusukan oleh jamur. The slight thermal treatment applied as a blanching step to inactivate enzymes inactivates or injures microorganism loadPerlakuan panas ringan yaitu blansing diterapkan sebagai langkah untuk menonaktifkan enzim atau menginaktivasi mikroorganisme.Sulfiting agents were used in low concentrations when necessary to inhibit nonenzymatic browning reaction (31,36,37). Agen Sulfiting digunakan dalam konsentrasi rendah bila diperlukan untuk menghambat reaksi pencoklatan nonenzimatik.
            Makanan yang memiliki aw tinggi adalah habitat yang cocok untuk pertumbuhan bakteri, ragi, dan kapang. Pada produk makanan dengan kelembaban tinggi,    aw merupakan kendala utama untuk pertumbuhan mikroorganisme pembusuk dan patogen, beberapa produk tersebut dapat distabilkan pada nilai aw tertinggi 0,98.  tha pH will exert a strong selective pressure on the existing microflora (31,37).pH akan mengerahkan tekanan selektif yang kuat pada mikroflora yang ada. However, high acid contents provide an unsuitable environment for the growth of most bacteria : therefor, the low pH of these minimally processed fruits establishes that the potential source of spoilage is yeasts, molds, and acid-tolerant bacteria. Namun, kandungan asam yang tinggi menyediakan lingkungan yang tidak cocok untuk pertumbuhan bakteri, pH rendah dari buah-buahan merupakan penghambat pertumbuhan ragi, kapang, dan bakteri yang toleran asam. Interactions pH-a w in the applied ranges will be enough to suppress the growth of most bacteria of cencern in fruit preservation (31,36). Interaksi antara pH dan aw dapat menekan pertumbuhan bakteri pada pengawetan buah. Pada aw level tinggi, efek pH pada osmophilic mungkin sama seperti non-osmophilic karena rentang pH dari makanan yang berkelembaban tinggi adalah 3,0-4,1 mungkin tidak mewakili untuk pertumbuhan yang optimal.
            Pengawetan makanan menempatkan mikroorganisme dalam lingkungan yang tidak bersahabat sehingga menghambat pertumbuhan mereka, mempersingkat hidup, atau menyebabkan kematian. Untuk stabilitas mikroba dari makanan berkelembaban tinggi, ada empat atau lima teknologi yang dapat digunakan, yaitu blansing, menurunkan aw, menurunkan pH, penambahan pengawet kimia (sorbat atau benzoat), dan dalam beberapa kasus, ada penambahan sulfit sebagai zat antibrowning. An important phenomenon in food preservation is the interference with the homeostasis of microorganisms (39). Sebuah fenomena penting dalam pengawetan makanan adalah gangguan homeostasis mikroorganisme. Homeostasis is the tendency to uniformity or stability in the normal status (internal environment) of organisms. Homeostasis adalah kecenderungan untuk keseragaman atau stabilitas dalam status normal (lingkungan internal) dari organisme. If the homeostatis of microorganisms (internal equilibrium) is disturbed by the preservatives factors (a w , pH, additives, etc) present in food, the microorganisms will not multiply or many even die (28). Jika keseimbangan internal terganggu oleh faktor-faktor pengawet (aw, pH, aditif, dll) hadir dalam makanan, mikroorganisme tidak akan berkembang biak bahkan mati.  Thus, food preservation is achieved by disturbing temporarily or permanently the homeostatis of the microorganisms in a food. Jadi, pengawetan makanan ini mengganggu sementara atau secara permanen pada lingkungan internal dalam makanan. Mechanisms of the main selected hurdles used in the preservation of HMFP on the microbial cell homeostatis are discussed next.
Efek aw The water activity effect on the majority of microorganisms is related to the water status in their immediate environments because the microorganisms are metabolically active only in a range of water activities (40).eepada mayoritas mikroorganisme berhubungan dengan status air di lingkungan mereka langsung, karena mikroorganisme yang aktif secara metabolik hanya dalam rentang aktivitas air. Microorganisms do not contain water-impermeable barriers and tend to come rapidly into osmotic equilibrium with their surroundings.Mikroorganisme tidak mengandung hambatan air-impermeabel dan cenderung datang dengan cepat ke dalam kesetimbangan osmotik pada lingkungan sekitar mereka. Therefore, in a food with reduced a w the osmolality of the environment will be high and if the solutes present cannot penetrate the cell membrance, the microorganisms lose water until the equilibrium is re- established (40).Oleh karena itu, dalam makanan dengan mengurangi aw, osmotik lingkungan akan menjadi tinggi dan jika ada zat terlarut tidak dapat menembus membran sel, mikroorganisme kehilangan air sampai kesetimbangan tersebut kembali.The loss of water results in a reduced metabolic activity and, at least temporarily, growth cases (40), affecting the homeostatis of the cell. pH makanan salah satu faktor utama yang menentukan kelangsungaan hidup dan pertumbuhan dari mikroorganisme selama proses produksi, penyimpanan dan distribusi. Booth dan Kroll menyatakan bahwa pertumbuhan mikroba dan kelangsungan hidup tergantung pada pH cytoplasmatic. The microflora in a food is affected by the concentration of free hydrogen anions and by the concentration of undissociated weak acids (which is affected by the pH and the nature of the aciMikroflora dalam makanan dipengaruhi oleh konsentrasi anion hidrogen bebas dan dengan konsentrasi asam lemah terdisosiasi (yang dipengaruhi oleh pH dan sifat asam).
Asam lemah menyebabkan kebocoran ion hidrogen di membran sel, pengasaman interior sel dan menghambat mekanisme transportasi, penghambatan pertumbuhan secara prinsip dapat disebabkan oleh inaktivasi, atau gangguan pada dinding sel, membran sel, enzim metabolik, sistem sintesis protein, atau genetik mataerial. The cell of various microbial species present different tolerances toward internal acidification or anion accumulation, and their membrances have different permeability characteristics for lipophilic acids. Berbagai spesies mikroba memiliki toleransi berbeda terhadap pengasaman internal atau akumulasi anion, dan membran mereka memiliki karakteristik permeabilitas yang berbeda untuk asam lipofilik. Therefor, in a mixed initial flora, the acidity and pH of the food may determine the potential spoilage microorganisms. Maka, keasaman dan pH makanan dapat menentukan pembusukan mikroorganisme potensial. A low external pH leads to an initially high pH gradient : therefor, to achieve equilibration of the pH gradient, considerable amounts of the anion must be accumulated in the cell : the liberated protons exceed the capacity of the cell to maintain cytoplasmatic pH and microbial growth is inhibited (41). Sebuah pH rendah eksternal mengarah ke gradien pH awalnya tinggi, untuk mencapai equilibrium gradien pH, jumlah yang cukup dari anion harus terakumulasi dalam sel, proton dibebaskan melebihi kapasitas sel untuk mempertahankan pH cytoplasmatic dan pertumbuhan mikroba dihambat. Besiades the pH effects of sorboc angd benzoic acids used as chemical preservatives, specific inhibition pattrerns are exhibited by the undissociated forms of these acids. Berdasarkan efek pH asam benzoat sorbic yang digunakan sebagai pengawet kimia, penghambatan spesifik yang ditunjukkan oleh bentuk-bentuk asam-asam yang tidak terdisosiasi.
The water activity and pH hurdles, when used together with a blanching step that reduces the initial microbial count, disturb the homeostatic mechanism of the microorganisms and assure microbial stability in fruits preserved by hurdle or combined factors technology.            Kombinasi aw dan pH , bila digunakan bersama dengan blansing dapat mengurangi jumlah mikroba awal, mengganggu mekanisme homeostatik dari mikroorganisme dan menjamin stabilitas mikroba dalam buah yang diawetkan oleh teknologi kombinasi. Makanan yang  makanan yadiawetkan dengan teknologi ini, kombinasi yang berbeda dalam makanan mungkin tidak menunjukkan efek aditif pada stabilitas namun dapat bertindak sinergis. The understanding of the influence of the hurdles on the homeostatic of moicroorganisms could lead to a multi target preservation of food (28), and therefore a minimal but effective preservation of foods. Pemahaman pengaruh teknologi kombinasi pada mikroorganisme dapat membuat pengawetan yang tepat.
The different preparation steps ti which fresh frits are subjected in the production process for HMFP will have a clear impact on the natural flora of fruits.            Penyusunan langkah-langkah yang berbeda pada buah segar dalam proses produksi untuk makanan yang berkelembaban tinggi akan memiliki dampak yang jelas. Blansing merupakan kontrol kritis dalam pengolahan produk tersebut dan It is an early processing step for most vegetables and a few fruits, for which destruction of contaminating organism is accomplished because the temperatures used are critical for some fungi (45).langkah pengolahan awal untuk sebagian besar sayuran dan beberapa buah-buahan, yang dicemari organisme perusak karena suhu yang digunakan dapat mencegah tumbuhnya jamur.A decrease in the viable number is expected to occur during the a w , pH, and preservatives equilibrium stage in which the blanched fruit pieces or purees are exposed to these factors, as well as during storage of the stabilized product. Penurunan dalam jumlah yang layak diharapkan terjadi selama penurunan aw, pH, dan pemberian pengawet. These phenomena have practical importance and had been called by Leistner (4) the autosterilization process of stable hurdle technology foods. Hal ini diamati oleh beberapa peneliti dalam studi dengan produk buah-buahan kelembaban tinggi. The counts of variety of bacteria, yeasts, and molds that survived blanching decreased below the detection limit during storage. Perhitungan dari berbagai bakteri, ragi, dan jamur yang masih bisa tumbuh setelah perlakuan blansing mengalami penurunan sampai di bawah batas. Microorganisms in HMFP exert every possible repair mechanism to overcome the hostile environment, by doing this, the microorganisms completely use up their energy and die if they become metabolically exhausted (4). Mikroorganisme dalam makanan berkelembaban tinggi mengerahkan setiap mekanisme perbaikan untuk mengatasi lingkungan yang tidak bersahabat, dengan melakukan hal ini, mikroorganisme benar-benar menggunakan energi mereka sehingga menyebabkan kematian.
Preserved papaya (a w 0.98, 1000 ppm potassium sorbate, 150 ppm N a HSO 3 , and pH 3.5) presented aerobic mesophilic, yeast, and mold counts < 10 CFU/g during 5 months of storage at 25 0 C (48).            Pepaya yang diawetkan (aw = 0,98, KS = 1000 ppm, NaHSO3 = 150 ppm, dan pH 3,5) dihadirkan mesofilik, ragi, dan jamur jumlahnya < 10 CFU / g selama 5 bulan pada  penyimpanan pada 25 0C. The microbiological analysis performed during 4 months of storage of pineapple slices preserved with a w 0.97, 1000 ppm potassium sorbate, 150 ppm NaHSO3, and pH 3.1 indicated that standard plate and yeast and mold counts remain below the level of detection for 30 days of storage at 27 0 C (49). Analisis mikrobiologi dilakukan selama 4 bulan penyimpanan irisan nanas diawetkan dengan aw = 0,97, kalium sorbat 1000 ppm, NaHSO3 150 ppm, dan pH 3,1 menunjukkan pertumbuhan yest dan kapang berada di bawah tingkat selama 30 hari penyimpanan pada 27 0 C. In this study, also, no anaerobes were detected in the syrup or the fruit. Dalam kasus ini tidak ada anaerob terdeteksi dalam sirup atau buah. The chages in the aerobic mesophilic plate count declined during storage and the viable population was almost lost after 20 days for banana puree preserved with a w 0.97 adjusted with glucoseMesofilik menurun selama penyimpanan dan populasi nyaris hilang setelah 20 hari pada pengawetan bubur pisang dengan aw 0,97 disesuaikan dengan glukosa100 ppm potassium sorbate, 400 ppm NaHSO3, 250 ppm ascorbic acid., 100 ppm kalium sorbat, 400 ppm NaHSO3, 250 ppm asam askorbat,pH 3.5 and with a mild heat treatment, and for peach halves preserved with a w 0.94 adjusted with glucose, 1000 ppm potassium sorbate, 150 ppm NaHSO 3 and pH 3.5. pH 3,5 dengan perlakuan panas ringan. Bagian  buah persik diawetkan dengan w 0,94 disesuaikan dengan glukosa, 1000 ppm kalium sorbat, 150 ppm NaHSO3 dan pH 3,5. Bubur pisang dan potongan persik disimpan pada      250C dan 300C. The microbiological stability obtained shows that it is more effective to use different factors or hurdles in small amounts in a food than only one factor in larger amounts because each factor used might hit different targets within the microbial cell and thus act synergistically (28)Stabilitas mikrobiologi yang diperoleh menunjukkan bahwa lebih efektif untuk menggunakan teknologi kombinasi yang berbeda daripada hanya satu faktor dalam jumlah yang lebih besar karena masing-masing faktor yang digunakan dapat mencapai target yang berbeda dalam sel mikroba. Namun, respons terhadap faktor-faktor stres mikroorganisme tertentu harus dipelajari dengan menggunakan pendekatan yang berbeda. Some basic information is requirerd to establish thr types and numbers of microorganisms to be used in a microbial challenge test (31). Tes Tantangan mikroba dapat digunakan sebagai model untuk mensimulasikan perilaku produk selama pengolahan, distribusi, dan penyimpanan. For the selection of the microorganisms to be inoculated, the results obtained in studies carried out in vitro are a useful key : Cerrutti et al. Untuk pemilihan mikroorganisme yang akan diinokulasi, hasil yang diperoleh dalam studi yang dilakukan secara in vitro oleh Cerrutti et al melaporkan kombinasi yang berbeda dari aw, pH dan kalium sorbat dan / atau natrium bisulfit yang menghambat pertumbuhan ragi di laboratorium media, aw 0,97 , pH 4,0, dan 500 ppm kalium sorbat, atau dengan aw yang sama tetapi pH 3.0 dan 200 ppm pengawet.
Tapia de Daza and Aguilar (53) reported growth inhibation in laboratory Tapia de Daza dan Aguilar melaporkan pertumbuhan media of Zygosaccharomyces rouxii , isolated from an intermediate moisture papaya, at a w Zygosaccharomyces rouxii, terisolasi dari pepaya yang berkelembaban sedang, pada aw 0,95 dengan pH 4.0, 500 ppm of potassium sorbate, and 100 ppm of sodium bisulfite. pH 4,0, 500 ppm kalium sorbat, dan 100 ppm natrium bisulfit. Lopez-Malo et al. Lopez-Malo et al. (54) reported the individual and combined effects of a w (0.99, 0.97, and 0.95), pH (5.5, 4.5, and 3.5) and potassium sorbate concentration on the extension orf the lag phase and the rate of radial growth of Aspergillus flavus , Amelaporkan efek individu dan gabungan dari aw (0,99, 0,97, dan 0,95),  pH (5,5, 4,5, dan 3,5) dan konsentrasi kalium sorbat pada ekstensi tersebut menghambat laju pertumbuhan Aspergillus flavus, A. Ochraceus, and Penicillium spOchraceus, dan Penicillium sp. In a potato dextrose agar system, and reported several inhibitory combinations of the studied factors. Aw yang rendah, pH dan konsentrasi pengawet diperlukan untuk menekan penurunan pertumbuhan.
Tablante and Tapia de Daza (55) performed a challenge study in intermediate-mosture papaya (a w 0.89, pH 4.0, 1000 ppm of potassium sorbate, and 150 ppm of sodium bisulfite) inoculating Z. Tablante dan Tapia de Daza melakukan penelitian pada pepaya (aw 0,89, pH 4,0, 1000 ppm kalium sorbat, dan 150 ppm natrium bisulfit) diinokulasi Z. rouxii , Saccharomyces cerevisiae, Aspergillus ochraceus, and Staphylococcus aureus rouxii, Saccharomyces Cerevisiae, Aspergillus ochraceus, dan Staphylococcus aureus. The osmotolerant yeast ZRouxii was the only microorganism that proliferated with no difficulty in the product after an initial decline, the rest of the organisms are inhibited during the first week of storage. ZZ. Rouxii adalah mikroorganisme yang dapat berkembang biak dengan tidak ada kesulitan dalam produk setelah penurunan awal, sisa organisme terhambat selama minggu pertama penyimpanan.     Z. rouxii was inoculated in two different high-mosture papaya products, one with a w 0.98, pH 3.5, 150 ppm sodium bisulfite, 1000 potassium sorbate (56) and the other with a w 0.96, pH 3.5, 150 ppm sodium bisulfite, 1000 ppm potassium sorbate (57) , in both cases the selected hurdles reduced the initial count of the yeast but the surviving cells were viable even after 3 months of storage. rouxii diinokulasi pada pepaya yang berbeda kelembabapannya, satu dengan aw 0,98, pH 3,5, 150 ppm natrium bisulfit, kalium sorbat 1000 ppm dan yang lainnya dengan, aw 0,96 pH 3,5, 150 ppm natrium bisulfit, 1000 ppm kalium sorbat, pada kedua kombinasi yang dipilih dapat mengurangi jumlah ragi tetapi sel-sel masih dapat hidup bahkan setelah 3 bulan penyimpanan. In these cases, the conditions selected for the studies were sufficient to inhibit yeast growth, and although the factors used were not enough to inactivate the yeast, they were sufficient to maintain microbiologically sound food products. Dalam kasus ini, kondisi yang dipilih untuk studi itu cukup untuk menghambat pertumbuhan ragi, meskipun faktor yang digunakan tidak cukup untuk menonaktifkan ragi.
According to the behavior of the native flora and the results obtained with microbiological challenge tests, the processed fruits were microbiologically stable in non-refrigerated storage for 3 to 8 months.            Berdasarkan perilaku flora asli dan hasil yang diperoleh dengan tes mikrobiologis, buah olahan akan stabil mikrobiologisnya di non-berpendingin pada penyimpanan untuk 3 sampai 8 bulan. Even so, sanitation is an essential prerequisite for production, and contamination can always be minimized by employing proper Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP) program to assure safety and overall quality of HMFP is necessary, and it should not be a complex task, since the type of products, due to intrinsic and processing conditions, should not represent significant risks of pathogenic hazards, while spoilage potential can be successfully predicted and controlled (31). Meskipun demikian, sanitasi merupakan syarat penting untuk produksi, dan kontaminasi selalu dapat diminimalkan dengan menggunakan pengendalian titik kritis (HACCP), salah satu teknik untuk menjamin keselamatan dan kualitas keseluruhan produk makanan dengan kelembaban tinggi.
3.2. Faktor-faktor Penentu Kualitas
Konsumen buah-buahan tidak hanya menekankan pada kenyamanan tetapi juga pada mutu dan karakteristik seperti kesegaran (36). Pola konsumsi teladan ini telah mendorong pengembangan dari teknik pemeliharaan makanan yang menghasilkan minimal proses pada buah-buahan dengan meningkatkan mutu dan memperpanjang kerusakannya sendiri. Metode teknologi kombinasi, sebagai teknik pemeliharaan mempunyai kestabilitasan mikroba akhir, tetapi bahkan makanan yang secara mikrobiologi kelihatan mulai memburuk. Dasar dari kebanyakan teknik pemeliharaan makanan adalah mehambat pertumbuhan dari produksi makanan rusak akibat jasad renik yang bersifat pathogen, tetapi Pengawetan kualitas makanan yang lain adalah suatu perhatian yang lebih (40). Ada Peningkatan permintaan yang berkwalitas atas kebiasaan buah-buahan yang diproses secara minimal (58). Argaiz et al. (37) menyebutkan bahwa buah yang diproses melalui teknologi kombinasi harus mempunyai suatu tekstur yang konsisten, penampilan yang segar dan warna  yang bisa diterima.
Alzamora et al. (36) dan Argaiz et al. (37) melaporkan bahwa tentang produksi yang rusak karena mikroba, perubahan  dapat terjadi secara Fisika Kimia selama pengolahan ,penyimpanan dari buah-buahan yang dipelihara dengan teknologi kombinasi. Untuk memperdalam mutu yang tinggi tentang produk makanan berkelembapan tinggi, kematangan yang sesuai pada waktu pemanenan adalah suatu faktor yang menentukan, hal ini menunjukkan lebih ke arah penempatan penekanan pada karakteristik yang terlihat (37) dan mengorbankan yang lain, seperti kesukaan/selera. Beberapa langkah atau kombinasi yang diterapkan sepanjang proses untuk stabilisasi dari buah oleh teknologi yang dikombinasikan dengan mempengaruhi physicochemical mereka dan karakteristik yang berhubungan dengan menggunakan panca indera. Bagaimanapun, sebagian dari penghambatan tersebut membantu ke arah Pengawetan warna makanan, tekstur, dan karakteristik yang berhubungan dengan sensor panca indera selama penyimpanan.
Pada Pengawetan buah, terdapat dua kombinasi yang diberlakukan untuk mempertahankan umur simpan, yaitu Blancing dan penambahan sulfite. Perlakuan panas  yang diterapkan melalui blancing yang bertujuan untuk inaktivasi enzim, mencegah reaksi pembusukan dan agen sulfat yang ditambahkan dalam beberapa hal akan menghalangi atau menunda reaksi warna menjadi coklat melalui nonenymatic dan enzymatic.
Faktor lain yang bisa mempengaruhi karakteristik dari produk makanan berkelembaban tinggi, seperti PH yang rendah dan  Aw yang tinggi menggunakan peran suatu faktor penentu di dalam banyak bahan kimia dan reaksi enzymatic yang berlangsung selama penyimpanan yang tidak melalui pendinginan. Leung (59) mengatakan bahwa air yang dibentuk bisa mempengaruhi kereaktifan kimia di dalam melalui jalan yang berbeda. Air bisa bertindak sebagai suatu komponen reaktan, seperti pada hidrolisis sukrosa. Air sebagai bahan pelarut menggunakan suatu efek pelemahan. Air juga bisa merubah mobilitas dari atau yang saling berhubungan dengan komponen reaktan itu. Air mempercepat reaksi pencoklatan, melalui mobilitasnya ke substrates, atau bisa berkurang pada tingkatan tahapan reaksi melalui pelemahan dari komponen reaktan (59,60). Reaksi Browning mengatakan bahwa pada table biaya pengiriman barang-barang yang umum dengan meningkatkan water activity (aktivitas air), mencapai suatu titik  maksimum antara aw dari 0.40 dan 0.80. Leung (59) melaporkan bahwa pada kelembaban sedang atau tinggi selisih Aw, rata-rata reaksi kimia dapat meningkat , hal tersebut disebabkan karena mengalami efek pelemahan.
Tabel 2 menunjukkan adanya karakteristik yang berhubungan dengan sensor organoleptik pada pepaya dan nanas yang diawetkan dengan menggunakan teknologi yang  dikombinasikan. Score adalah rata-rata diperoleh dari 50 panelis dan menghadirkan karakteristik awal yang berhubungan dengan sensori organoleptik untuk umur simpan.  Score sesuai dengan kemampuan produk (keseluruhan kemampuan menerima di sekitar 7, " seperti suka"). Hasil yang yang serupa telah diperoleh untuk irisan nanas oleh Alzamora et al. (49) dan untuk  persik yang terbagi 2 oleh Argaiz dan Lopez-Malo ( 61). Secara umum, aplikasi dari teknologi kombinasi mengakibatkan produk dengan karakteristik sensori baik. Kombinasi teknologi secara umum dengan menambah ke dalam suatu larutan dari sucrose, asam, dan bahan aditif lain dalam konsentrasi setelah waktu stabilisasi, Aw yang diinginkan, pH, dan konsentrasi adiktif diperoleh; dengan begitu beberapa perubahan di dalam komposisi buah akan berlangsung selama proses stabilisasi ini. Perubahan yang utama adalah hasil dari suatu proses konsentrasi osmotik.

Tabel 2 Karakteristik Sensori dari Pepaya dan Nanas yang diberikan Perlakuan dengan Metode Kombinasi
Atribut (Hasil Penunjukan)
Pepaya
Nanas
Bau
6,48
6,36
Warna
7,21
7,09
Tekstur (bentuk)
7,44
7,36
Rasa
7,33
6,98
Kemampuan menerima
7,25
7,21
Hasil yang diperoleh dari panel yang tak terlatih sebelumnya ( 50 anggota)
penggunaan suatu skala nine-point yang hedonic (9, sangat suka; 1, sangat tidak menyukai)
Sumber: Dari Refs 48 dan 71.

Tabel 3 menunjukkan adanya karakteristik awal dari segar, memucat, dan setelah dipelihara (dengan seketika setelah pengolahan) pepaya, nanas, dan persik. Buah-Buahan yang telah diproses dengan suatu sucrose-additives sirup dari komposisi seperti (itu) menunjukkan adanya keseimbangan, suatu (aw) dari 0.98 yang telah diperoleh akan sama  seperti Potasium sorbat dan bisulfate konsentrasi sodium dari 1000 dan 150 ppm, Ph Sirup telah dikurangi dengan asam sitrat. untuk irisan pepaya dan irisan nanas, mencapai suatu nilai akhir di buah-buahan dari 3.5 dan 3.7 secara berturut-turut. Potongan Persik setelah diperlakukan dengan dua sirup  campuran dari asam fosfat dan  yang berkenaan dengan asam sitrat untuk mencapai pH 3.7 pada buah-buahan itu. Kelembapan air dari buah-buahan meningkat sedikit setelah blancing, mencerminkan pelarutan dari padat yang dapat larut. Pengawetan tersebut mengurangi kelembapan karena air dan perubahan larutan antara buah dan sirup selama konsentrasi osmotik. keseimbangan AW  nanas dan persik, sesuai dengan nilai yang ada. Keseimbangan Aw untuk pepaya lebih rendah dari yang diinginkan, yang telah dihitung penggunaan sucrose sebagai dasar. Mengurangi kandungan gula dari pepaya adalah hal utama, yang mencerminkan hidrolisis sukrosa. Bahan sukrose yang dihidrolisis secara enzymatic dapat terjadi dan memodifikasi aw dari buah yang diawetkan karena kapasitas froktosa dan Glukosa yang besar mampu menurunkan Aw (62), Aw. Yang tinggi mampu meningkatkan pertumbuhan mikroba (36.48). bagaimanapun, hidrolisis sucrose menyukai warna coklat yang non-enzymatic dengan perubahan yang terkait di dalam warna.

Tabel 3 Karakteristik Awal dari Tingkat Kesegaran, Kondisi Memucat, dan Buah-Buahaan yang diawetkan.
Karakteristik awal
Tingkat Kesegaran
Kondisi Memucat
Buah-buahan yang dipelihara
Pepaya
Isi embun (%)
pH
Derajat/tingkat Brix
Pengurangan kadar gula
Asam ascorbic
Aw (aktivitas air)
Warna
-       Gelap/terang
-       Roda/warna
-       Krom
Tekstur (kg)

91,25
5,4
7,7
7,7
46,4
0,996

44,2
64,48
30,5
6,68

92,02
5,6
7,3
7,2
33,1
0,996

47,62
65,44
32,98
5,36

72,62
3,5
27,2
23,5
23,1
0,963

59,37
73,35
38,81
5,41
Nanas
Isi embun (%)
pH
Derajat/tingkat Brix
Pengurangan kadar gula
Aw (aktivitas air)
Warna
-       Gelap/terang
-       Roda/warna
-       Krom
Tekstur (kg)

87,57
2,97
10,7
4,7
0,994

79,87
-84,1
34,92
6,21

88,2
3,13
10,2
4,1
0,986

73,14
-83,84
37,31
6,09

70,68
3,69
25,9
2,8              
0,978

69,26
-84,21
33,87
5,83
Persik
Isi embun (%)
pH
Derajat/tingkat Brix
Pengurangan kadar gula
Aw (aktivitas air)
Warna
-       Gelap/terang
-       Roda/warna
-       Krom
Tekstur (kg)

86,6
3,75
6,5
1,4
0,995

49,48
70,53
29,36

89,4
3,79
5,6
2,0
0,997

50,16
71,8
30,25

77,3
3,71
25,5
1,8
0,979

53,31
76,65
33,65
Sumber : dari Refs 48, 61 dan 71

Montes dan Oca et al. (64) telah melaporkan bahwa kehadiran dari jus buah meningkatkan tingkat hidrolisis sucrose, kemungkinan karena efek yang dikatalitis dari asam organik buah, dan dilaporkan bahwa kehadiran dari jus buah di dalam sucrose sirop mempengaruhi aw mereka. Melengkapi dengan sucrose hidrolisis di dalam sari buah prem mempunyai keuntungan setelah 20 hari dari penyimpanan pada 37˚C telah diamati (64).
Blancing tidak merubah dengan keringanan warna, crome dari pepaya, nanas, dan persik (tabel 3). Parameter warna yang diubah untuk buah-buahan yang diawetkan, mencerminkan pengambilan gula selama konsentrasi osmotik. Proses blancing yang diproduksi dari suatu pengurangan atau jaringan buah, yang berada di dalam umumnya tidaklah lemah sepanjang itu ada perawatan osmotik. Rata-Rata nilai tekstur untuk kesegaran dan blancing buah-buahan tidak berbeda dengan signifikan. Monsalve-Gonzalez et al (65) telah melaporkan bahwa suatu pengurangan dari irisan buah apel yang tidak memucat sepanjang penyesuaian osmotik dari aktivitas air. Maltini et al. (66) telah melaporkan bahwa selama suatu osmotic perawatan untuk melakukan penyesuaian aw dari buah meningkat, keuntungan yang padat adalah sangat ditingkatkan dari sebelumnya yang memucat. Masukan padat yang dapat larut mempunyai suatu batasan dalam mempengaruhi secara diam-diam tekstur dari buah itu. Tekstur Buah tergantung  pada bukan larutan dan kelembapan bukan pada padat larutan dan  Aw. Oleh karena itu, suatu aw yang rendah mungkin bisa dicapai melalui pemeliharaan suatu tekstur yang bisa diterima.
Berubahnya warna buah-buahan yang diproses dihubungkan dengan reaksi warna coklat yang noneenzymatic dan enzymatic, seperti halnya dengan pigmen alami yang dapat menurunkan pangkat atau lhilang dengan pelarutan (36). Sulfites mungkin ditambahkan ke makanan untuk menghalangi enzim, pertumbuhan mikroorganisme atau reaksi browning(67). Reaksi antara campuran sulfites dan carbonyl penting dalam mencegah warna coklat yang nonenzymatic. Banyak Produsen makanan melalaikan perubahan warna coklat medium selama pengolahan atau penyimpanan yang secara umum dipertimbangkan tak dapat diterima. Efektivitas dari sulfite di (dalam) mencegah warna coklat yang nonenzymatic tergantung dengan sedikit-banyaknya carbonyl yang dibentuk, dan dengan memperlihatkan pembebasan carbonyl campuran yang bebas. Banyak makanan segar yang berisi enzim yang aktif, yang dapat secara kimiawi atau secara phisik merubah makanan. Perubahan visual yang utama di dalam makanan diakibatkan oleh pengembangan yang non-enzymatic dan/atau enzymatic dari unsur yang memberi pigmen coklat (68). Enzim juga menyebabkan perubahan flavor. Tekstur dapat dipengaruhi oleh enzymatic, fisiologis, dan physicochemical faktor (69). Sulfite sering ditambahkan ke makanan untuk menghalangi tindakan enzim, terutama mencegah warna coklat enzymatic yang sering disebabkan oleh polyphenoloxidases (67). Menambahkan sulfitepada buah-buahan yang diawetkan secara organoleptic mempengarhi mutu, karena sebagian besar menunda serangan dari pembusukan selama penyimpanan (70).
 Jika dibandingkan dengan beberapa bahan pengawet lain yang secara meluas digunakan, sulfites secara relatif tidak stabil di dalam makanan dan oleh karena itu akan kehilangan efektivitas selama penyimpanan. Menandai sulfite konsentrasi coklat pada makanan dapat sering berkurang selama pengolahan dan penyimpanan. Untuk contoh, mendidihkan suatu makanan yang asam seperti arbei yang mengandung sulfite selama pembuatan selai akan mengakibatkan sulfite merugi sebesar 95%. Kerugian seperti itu harus diperhitungkan oleh karena adanya batasan yang sah tentang undang-undang dan untuk merancang proses dan kondisi-kondisi penyimpanan (70). Argaiz et al. ( 37) telah melaporkan bahwa  untuk produk buah berkelembaban yang tinggi, hilangnya sulfites tergantung pada temperatur penyimpanan dan pada pecckaging.
Alzamora et al. (49) telah melaporkan bahwa tekstur nanas yang dilaporkan tidaklah terpengaruh oleh kondisi memucat, osmotic perawatan (aw 0,97, glukosa), dan penyimpanan pada suhu  27˚C. Nilai kekuatan gunting besar adalah tetap selama 4 bulan dari penyimpanan, walaupun nanas menjadi sedikit lebih fleksibel. Lopez-Malo et al. (48) tekanan yang dilaporkan mempunyai nilai 150 ppm untuk pepaya dari penyimpanan pada 5˚C. keteguhan dari pepaya dipelihara yang disimpan pada 25˚C berkurang. Sebab perlakuan bahan yang terbatas telah diberikan kepada buah selama uap air yang memucat (selama 30 detik pada suhu 100˚C), perbedaan di dalam tekstur antara 5˚C dan 25˚C penyimpanan yang telah dihubungkan dengan aktivitas yang lebih tinggi dari enzim pepaya yang pectolytic pada 25˚C. Bagaimanapun, variasi di dalam prosedur tekstur setelah memucat pada penyimpanan pada 5˚C atau 25˚C tidak cukup untuk menyebabkan suatu perubahan yang berhubungan dengan sensor panca indera menjadi penting.
Strawbery dilunakkan dengan blancing. Textural mutu dari pengolahan water-blanched mengurang signifikan dengan penyimpanan, mencapai nilai-nilai yang sangat rendah (94). Penambahan dari 0,1% dari berat bahan laktat-kalsium (konsentrasi yang maksimum yang dapat diterima untuk kemampuan menerima yang berhubungan dengan sensor panca indera) sepanjang konsentrasi osmotik yang secara langkah textural karakteristik ditingkatkan dari Strawbery sugar-treated (perlakuan penggulaan) dan vapor-blanched (uap air yang keluar ketika proses pemucatan) adalah tidak efektif di dalam mencegah pengurangan dari starwbery yang sugar-treated dan water-blanched. Monsalve-Gonzalez et al. (65) telah melaporkan bahwa  perawatan dengan kalsium klorida memperkecil pengurangan buah apel yang diakibatkan oleh perawatan osmotic untuk mengurangi aktivitas air pada tingkat 0,96.
Bourne (95) telah melaporkan bahwa parameter analisa profil tekstur dari buah apel segar dan yang diseimbangkan pada aw berbeda dalam pengukuran. Buah apel yang segar (aw 0,99) adalah kaku dan diperlihatkan suatu fracturabilas puncak dan keterpaduan yang rendah. Di dalam hal kontras, buah apel yang disetarakan/seimbangkan ke aw 0,85 diperlihatkan dengan tidak adanya fracturabilas dan deformabilas yang tinggi. Perubahan di dalam aw dari 0,99 di dalam buah apel yang segar pada 0,85 (dalam kaitan dengan pengurangan kelembapan) menyebabkan suatu pelengkapan; menyudahi hilangnya  karakteristik tekanan turgor dari buah apel yang segar, menghasilkan warna coklat total dengan hilangnya fracturabilas, suatu peningkatan di dalam deformabilas, dan suatu penerimaan yang meningkatkan dalam keterpaduan (95). Monsalve-Gonzalez et al. (65) telah melaporkan bahwa suatu pengurangan dari buah apel  tidak memucat yang terjadi pada akhir langkah-langkah dari suatu osmotic perawatan untuk pengurangan aw pada 0,96; pengurangan yang telah dibatasi pada tepi dari jaringan buah apel di mana gula yang telah menembus. Suatu korelasi hal negatif telah diamati antara sucrose pengambilan dan hilangnya tekstur, walaupun faktor seperti tindakan yang enzymatic, zat kapur yang larut dari dinding sel, solubilisasi dari protopectin, hilangnya turgor sel, dan penurunan derajad dari lamellae pertengahan dapat juga berperan untuk perubahan tekstur.
Beveridge dan Weintraub (96) telah melaporkan bahwa kekuatan yang diperlukan pada gunting besar untuk memucatkan irisan buah apel yang distabilkan pada aw antara 0,70 dan 0,77 adalah yang serupa untuk itu untuk sulfited atau dengan menginjak, tetapi gunting besar kekuatan yang diperlukan untuk blancing irisan dengan aw di bawah 0,57 adalah lebih tinggi dibanding yang untuk buah apel yang  tidak diperlakukan atau sulfited. Memucatkan irisan buah apel untuk mengendalikan warna coklat yang enzymatic adalah suatu teknik yang bermanfaat untuk produk buah apel dengan suatu aw yang dikurangi, tetapi hal itu merugikan ke tekstur berkwalitas ketika jaringa buah apel diharapkan untuk disimpan pada aw di bawah 0,60.

3.3. Teknologi dan Makanan
Istilah minimal proses mencakup berbagai metode dan teknologi untuk melestarikan makanan yang mendorong perubahan minimum segar-seperti karakteristik kualitas makanan (97). Nguyen-dan Carlin (98) didefinisikan meminimasi olahan buah dan sayuran segar, buah-buahan mentah atau sayuran diproses untuk memenuhi permintaan makanan  siap saji  produk makanan. Operasi tradisional digunakan dalam pengolahan makanan minimal pemangkasan. Peeling atau memotong, mencuci, desinfektan, dan kemasan. Sebuah penyimpanan berpendingin diperlukan untuk menjamin kehidupan rak beberapa hari. Produk-produk makanan olahan minimal dapat digunakan sebagai bahan masakan atau langsung konsumsi baris (98).
Minimal makanan olahan adalah respon dari industri makanan dalam arah pola konsumsi. Permintaan untuk "mengurangi" dan "cahaya" produk merupakan tren konsumen untuk menurunkan isi kalori atau gula, lemak, isi garam makanan: beberapa aditif cenderung diha
rapkan diganti dengan bahan alami, untuk membuat produk makanan yang lebih alami atau lebih segar- (97). Segar-seperti produk yang lebih tahan lama. Banyak penekanan harus diletakkan pada keamanan produk dan kualitas. Kehidupan rak panjang produk makanan bukan merupakan point penting lagi. Pelestarian teknik yang memperpanjang stabilitas penyimpanan dan tidak memiliki pengaruh yang merugikan pada kualitas adalah tujuan utama. Ada kebutuhan yang kuat dari prosesor makanan untuk baru atau yang ditingkatkan kombinsai teknologi yang memungkinkan produksi segar makanan yang stabil dan aman (29).
Rintangan teknologi usesthe kombinasi cerdas dari tecniques pelestarian tradisional atau baru untuk memastikan bahwa mikroorganisme dalam produk pangan tidak dapat tumbuh (4). Menggunakan konsep kombinasi tinggi beberapa produk buah-buahan yang dikembangkan dan stabilitas  (31-37). Huxsill dan Bolin (99) menyebutkan bahwa produk ini akan saya sebut sebagian proses bukan minimal : tetapi karena produk buah segar dimaksudkan untuk menjaga-seperti penampilan dan kualitas yang tepat untuk mempertimbangkan minimal proses (31). Stabilitas buah minimal proses dengan menentukan beban mikroba asli ragi, modls, dan aerobik dan anaerobik mesofilik dan thermopilicmicroorganisms buah dan sirup di stagesof berbeda  pelestarian selama penyimpanan. Pemanasan secara signifikan mengurangi ragi, jamur dan mikroorganisme aerobik . Jumlah mikroorganisme menurun masih lebih selama tahap equilibrium, mungkin karena pengawet panas yang berpengaruh pada proses tersebut,. Sebagai contoh, mempertimbangkan statnishedtus microbilogical buah mentah, pucat dan status mikrobiologis dari meminimasi sampai selesai diproses misalnya nanas pepaya dari alzamora et al. (48). Menyeimbangkan mengurangi beban mikroba dari 60% sampai 99%, sehingga jumlah setelah stabilisasi sangat rendah atau di bawah tingkat deteksi.
Tinggi-moisturenfruits produk dikembangkan dengan memperhatikan pertimbangan stabilitas mikroba dan produk rak diperpanjang memiliki intens manis atau rasa asam dan termasuk penggunaan aditif seperti sulfit, yang menjadi perhatian banyak konsumen dan di beberapa negara dilarang untuk digunakan dengan beberapa produk buah-buahan (37). Fr pengembangan produk buah olahan baru minimal di bawah konsep rintangan, overload kimia harus dikurangi dan kombinasi faktor mungkin termasuk kombinasi lain seperti pendingin, perawatan slinhttermal atau nontermal, dan penggunaan antimikroba alami. Argaiz et al. (37) merekomendasikan futherreseach untuk mengembangkan model prediktif untuk pertumbuhan mikroba serta model yg memburuk dapat digunakan untuk menjadi lebih baik memilih rintangan dan tingkat mereka untuk menjamin stabilitas dan kualitas produk buah olahan minimal.

3.4. Tren Future
 Studi yang mempertimbangkan kemungkinan adanya cetakan tahan panas yang secara tradisional telah terlibat dalam KLB juices pembusukan buah dan produk buah-buahan lain yang berbasis panas  diperlukan. Pemeriksaan untuk spesies byssochlamys, talaromycesflavus, dan neosartoriafisheri dapat bermanfaat (100). Inkubasi sorbat-resistannt ragi dan cetakan harus stunied. Zygosaccharomycesbailii, organisme lain conern di HMFP, menunjukkan ketahanan yang cukup terhadap panas, rendah, pH, aw berkurang, asam sorbat dan benzoat (101102). Preconditioning untuk sorbat atau zat terlarut dapat mempengaruhi Z, baillisorbate kembali) sistance (103); fakta ini harus diatasi ketika memecahkan masalah teknologi diwakili oleh sirup menghabiskan sisa setelah stabilisasi potongan buah. Penggunaan kembali sirup dapat menjadi risiko dalam kaitannya dengan penumpukan ragi pembusukan, dan karena itu sirup kembali di HMFP diproses hanya harus direkomendasikan setelah proses pasteurisasi.
Pemanfaatan kimia atau pengawet sintetis untuk mencegah pertumbuhan mikroorganisme keracunan makanan dan makanan pembusukan sedang ditantang oleh konsumen karena keamanan beberapa aditif makanan dipertanyakan (36). Sistem antimikroba alami terdapat pada tanaman sangat menarik bagi publik dalam konteks bagian-bagian Tanaman dari beberapa jenis tanaman yang digunakan sebagai agen penyedap diketahui memiliki aktivitas antimikroba dan tampaknya cocok untuk produk buah-buahan (104 "pengawet alami." - 106). Laporan baru tentang in vitro dan in makanan anrimicrobial diperlukan untuk menghambat pertumbuhan mikroba adalah konsentrasi diperlukan untuk menghambat pertumbuhan mikroba jauh lebih tinggi dalam makanan daripada di media cultureb, secara signifikan merusak rasa makanan. Namun, efektivitas minyak rempah-rempah penting dapat ditingkatkan ketika mereka digunakan dalam kombinasi dengan faktor-faktor stres lain atau rintangan (107). Penggunaan pengawet alam sebagai salah satu rintangan telah dilaporkan oleh alzamora et al (36) dan Lopez dkk malo. Untuk stabilisasi purees buah terhadap pertumbuhan jamur dengan vanilin (4-hy-droxy-3-methoxybenzaldehyde) (71). Cerrutti dan almazora (108) melaporkan bahwa penambahan 2000 ppm vanilin memiliki efek penghambatan penting pada Saccharomyces cerevisiae, Zygosaccharomyces Baili, Z rouxii dan Debaryomyces hansenii dalam kaldu Sabouraud pada ph 4,0 dan apel pure di ph 3,5 dengan 0,99 atau 0,95, untuk 40 hari penyimpanan. Juga lopez-malo et al. (109) melaporkan bahwa 1500 ppm vanili adalah penghambatan untuk Aspergillus flavus, A ochraceus, dan parasiticus di mangga-pepaya-nanas-apel-dan agars berbasis pisang (a 0,98 dan pH 3,5) A.niger penghambatan pertumbuhan dicapai dengan 2000 ppm vanili. Hasil menunjukkan bahwa vanilin mungkin apromissing aditif untuk menghambat jamur dalam produk buah-buahan, tergantung pada komposisi.
Mano-termo-sonication merupakan kombinasi yang menarik dari tekanan rendah (0.3MPa.), Perlakuan panas ringan, dan pengobatan gelombang ultrasonik yang tampaknya efektif untuk inaktivasi mikroorganisme (110). Inaktivasi peroksidase, lipoxygenase, dan polifenol oksidase oleh mano-termo-sonication dipelajari oleh Lopez et al (6) Sebuah efek sinergis yang secara substansial mengurangi resistensi enzim dan perlakuan panas yang dibutuhkan untuk inaktivasi diamati.. Perlakuan kombinasi dapat digunakan - dalam susu, jus, dan minuman lain-untuk memecahkan masalah yang disebabkan oleh enzim termostabil. Penelitian sedang berlangsung untuk memperjelas mekanisme yang bertanggung jawab untuk inaktivasi enzim diamati di bawah ini teknik baru.
·         Osmodehydrofreezing, sebuah proses gabungan di mana dehidrasi osmotik diikuti oleh dehidrasi udara dan pembekuan, diusulkan untuk mempersiapkan bahan-bahan sayuran kelembaban berkurang bebas dari bahan pengawet, dengan rasa alami , warna , dan tekstur dengan sifat fungsional untuk aplikasi yang berbeda suistanable ( 111). konsentrasi osmotik diikuti dengan pengeringan udara dengan menggunakan teknologi hurde juga diusulkan sebagai alternatif untuk pengeringan traditioanl. (112-114). Pengaruh pengobatan vakum pada perpindahan massa selama dehidrasi osmotik baru-baru dipelajari (115-116). Metode ini mengambil keuntungan dari miscrostructure berpori dari beberapa buah-buahan, meningkatkan transfer rate air.
Tinjauan yang disajikan dalam bab ini berfungsi untuk menyoroti fakta bahwa semakin banyak teknologi yang baru dan teknologi yang ditingkatkan. sedang diteliti atau sedang dalam tahap awal aplikasi. Penggunaan konsep teknologi rintangan bisa memulai penyelidikan ledakan di bidang proses sekarang dan produk terutama eksplorasi dari kombinasi faktor-faktor tradisional dengan metode nonthremal tercakup dalam buku ini. Interaksi novel lainnya dapat menjadi kombinasi antimikroba baru, film dimakan, atau dikendalikan-atmosfer kemasan, hanya untuk menyebutkan beberapa dari banyak kemungkinan untuk menyelidiki. Kelayakan teknis dan ekonomis serta keselamatan dan manajemen kualitas total dari teknologi baru adalah salah satu penantang yang dihadapi ilmuwan makanan hari ini
  
BAB V
SIMPULAN

1.      Teknik-teknik pengawetan utama didasarkan pada penundaan atau pertumbuhan mikroba melalui pencegahan, dengan menggunakan faktor-faktor yang paling mempengaruhi pertumbuhan dan kelangsungan hidup mikroorganisme, suhu , aktivitas air, Oksidasi potensial reduksi.
2.      Proses bebas kuman dalam pengawetan dilakukan melalui Sterilisasi dan Paeteurisasi. Untuk memperdalam mutu yang tinggi tentang produk makanan berkelembapan tinggi, kematangan yang sesuai pada waktu pemanenan adalah suatu faktor yang menentukan, hal ini menunjukkan lebih ke arah penempatan penekanan pada karakteristik yang terlihat.
3.      Bahan pangan setengah lembab memiliki kadar air yang lebih tinggi dibandingkan bahan pangan kering dan tetap stabil walaupun tanpa pendingin. Bahan pangan setengah lembab adalah suatu makanan yang mempunyai kadar air tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu rendah yaitu 15-50 %, tetapi makanan ini dapat tahan lama selama penyimpanan. Makanan yang memiliki aw tinggi adalah habitat yang cocok untuk pertumbuhan bakteri, ragi, dan kapang sehingga Untuk pemilihan teknologi pengawetan, perlu mengetahui karakteristik buah yang akan diproses. Based on the hurdle technology, a combination of factors that control microbial growth and maintain the fruit's organoleptic characteristics must be selectBerdasarkan pada teknologi kombinasi ,yaitu dengan mengontrol faktor-faktor pertumbuhan mikroba dan mempertahankan karakteristik organoleptik buah. Kombinasi aw dan pH , bila digunakan bersama dengan blansing dapat mengurangi jumlah mikroba awal, mengganggu mekanisme homeostatik dari mikroorganisme dan menjamin stabilitas mikroba dalam buah yang diawetkan oleh teknologi kombinasi. Makanan yang  makanan yadiawetkan dengan teknologi ini, kombinasi yang berbeda dalam makanan mungkin tidak menunjukkan efek aditif pada stabilitas namun dapat bertindak sinergis. The understanding of the influence of the hurdles on the homeostatic of moicroorganisms could lead to a multi target preservation of food (28), and therefore a minimal but effective preservation of foods. Pemahaman pengaruh teknologi kombinasi pada mikroorganisme dapat membuat pengawetan yang tepat. Pengawetan makanan menempatkan mikroorganisme dalam lingkungan yang tidak bersahabat sehingga menghambat pertumbuhan mereka, mempersingkat hidup, atau menyebabkan kematian.
4.      Pada Pengawetan buah, terdapat dua kombinasi yang diberlakukan untuk mempertahankan umur simpan, yaitu Blancing dan penambahan sulfit.
 
 DAFTAR PUSTAKA

Buckle,dkk.Ilmu Pangan.universitas Indonesia.1985;Jakarta
http://eprints.undip.ac.id/315/1/Anang_Mohamad_Legowo.pdf/10 November 2011, at 09.00 pm

Rabu, 21 Maret 2012

PERANAN BAKTERI ASAM LAKTAT (BAL) PADA PENGOLAHAN MAKANAN FERMENTASI

PERANAN BAKTERI ASAM LAKTAT (BAL) PADA PENGOLAHAN MAKANAN FERMENTASI

Oleh :
Anto Susanto
P2AA11054
E-Mail : antosusanto@ymail.com/politeknikketapang@yahoo.co.id

I.   PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pola hidup masyarakat yang cenderung menyadari akan pentingnya kesehatan menyebabkan kebutuhan pangan tidak sebatas pada pemenuhan kebutuhan gizi konvensional bagi tubuh serta pemuas mulut dengan citarasa yang enak melainkan pangan diharapkan mampu berfungsi menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh. Produk pangan seperti ini biasa disebut sebagai pangan fungsional.

Produk pangan yang banyak yang dikembangkan sebagai pangan fungsional antara lain adalah produk-produk probiotik. Probiotik merupakan bakteri hidup yang diberikan melalui mulut sebagai menu tambahan sehari-hari. Banyak spesies bakteri telah lama digunakan sebagai probiotik sebagian besar merupakan bakteri asam laktat misalnya : Lactobacillus sp.dan Streptococcus sp (Winarno et. al., 2003).

Cartney (1997) melaporkan bahwa bakteri probiotik menjaga kesehatan usus, membantu penyerapan makanan, produksi vitamin, dan mencegah pertumbuhan bakteri patogen. Selain itu dapat meningkatkan fungsi sistem kekebalan tubuh, metabolisme kolesterol, karsinogenesis, dan menghambat penuaan.
Produk makanan yang berkhasiat terapeutik lebih dikenal dengan istilah makanan fungsional. Salah satu makanan fungsional adalah makanan yang mengandung probiotik yaitu mikroba hidup yang bila dikonsumsi akan menimbulkan efek terapeutik pada tubuh dengan cara memperbaiki keseimbangan mikroflora dalam saluran pencernaan (Fueller 1989).

Makanan fungsional yang lain adalah makanan yang mengandung “prebiotik” yaitu komponen pangan (food ingredients) yang tidak dapat dihidrolisis oleh enzim-enzim pencernaan dalam saluran pencernaan manusia namun komponen ini dapat menguntungkan tubuh dengan cara menstimulasi pertumbuhan atau aktivitas sejumlah bakteri misalnya BAL, Bifidobacterium, Enterococcus, Bacteroides dan Eubacterium di dalam usus besar yang pada akhirnya dapat meningkatkan kesehatan tubuh (Gibson & Roberfroid 1995).

Salah satu produk probiotik yang mengandung bakteri asam laktat yaitu yoghurt. Yoghurt adalah produk koagulasi susu yang dihasilkan melalui proses fermentasi bakteri asam laktat, Lactobaccilus bulgaricus dan Streptococcus thermophilus dengan atau tanpa penambahan bahan lain yang diizinkan. (Nakazawa dan Hosono, 1992), dan masih banyak produk probiotik  yang mengandung bakteri asam laktat (BAL).

B. Batasan Masalah
Peranan bakteri asam laktat (BAL) banyak diaplikasikan dalam berbagai bidang, diantaranya bidang pertanian khususnya bidang pangan.
Pada pembuatan makalah ini memaparkan peranan bakteri asam laktat (BAL) pada pengolahan pangan hasil fermentasi. Adapun lingkup batasan permasalahan diantaranya membahas tentang spesies bakteri asam laktat bidang pangan dan fermentasi bakteri asam laktat, produk olahan hasil fermentasi oleh bakteri asam laktat dan peranan serta dampak positif yang ditimbulkan dengan adanya fermentasi oleh bakteri asam laktat tersebut.

C. Tujuan
Adapun tujuan dari makalah diantaranya :
1)    Mengetahui bakteri asam laktat dan fermentasi bakteri asam laktat dalam pengolahan pangan.
2)    Mengetahui peranan bakteri asam laktat dalam pengolahan makanan fermentasi dan berbagai macam olahan makanan yang dihasilkan.
3)    Mengetahui perubahan dan peranan serta nilai positif yang dihasilkan pada produk fermentasi oleh bakteri asam laktat.

D. Manfaat
Adapun manfaat yang dapat diperoleh pada pembuatan makalah, diantaranya : dapat menambah  ilmu pengetahuan dan wawasan tentang bakteri asam laktat dan fermentasi bakteri asam laktat dalam pengolahan pangan, peranan bakteri asam laktat dalam pengolahan makanan fermentasi dan berbagai macam olahan makanan yang dihasilkan,  perubahan dan peranan serta nilai positif yang dihasilkan pada produk fermentasi oleh bakteri asam laktat.

II. Bakteri Asam Laktat (BAL)
Bakteri Asam Laktat. Istilah bakteri asam laktat (BAL) mulanya ditujukan hanya untuk sekelompok bakteri yang menyebabkan keasaman pada susu (milk-souring organisms). Secara umum BAL didefinisikan sebagai suatu kelompok bakteri gram positif, tidak menghasilkan spora, berbentuk bulat atau batang yang memproduksi asam laktat sebagai produk akhir metabolik utama selama fermentasi karbohidrat. BAL dikelompokkan ke dalam beberapa genus antara lain Streptococcus (termasuk Lactococcus), Leuconostoc, Pediococcus Lactobacillus.

Indentifikasi bakteri asam laktat didasarkan pada morfologi, fisiologi dan sifat-sifat biokimia dari bakteri. Metode identifikasi menurut Holzapfel dan Schillinger (1992 dalam Widodo 2003), yang menyebutkan bahwa genus Streptococcus memiliki ciri-ciri yaitu, pH akhir dalam media MRS < 4.6, uji katalase negatip, koloni berbentuk kokus, kokus tidak berbentuk tetrad, dan tidak tumbuh pada suhu 100C.

Bakteri asam laktat (BAL) secara fisiologi dikelompokkan sebagai bakteri Gram positif, bentuk kokkus atau batang yang tidak berspora dengan asam laktat sebagai produk utama fermentasi karbohidrat. Secara tradisional, BAL terdiri dari empat genus yaitu Lactobacillus, Leuconostoc, Pediococcus dan Streptococcus. Sebagai contoh genus Streptococcus telah direorganisasi menjadi Enterococcus, Lactococcus, Streptococcus dan Vagococcus (Yang, 2000).

Diantara genus dan spesies BAL yang mempunyai potensi untuk digunakan sebagai probiotik dapat dilihat pada Tabel 2.

Bakteri asam laktat mempunyai peranan esensial hampir dalam semua proses fermentasi makanan dan minuman. Peran utama bakteri ini dalam industri makanan adalah untuk pengasam bahan mentah dengan memproduksi sebagian besar asam laktat (bakteri homofermentatif) atau asam laktat, asam asetat, etanol dan CO2 (bakteri heterofermentatif) (Desmazeaud, 1996). Bakteri asam laktat banyak digunakan dalam produk susu seperti yogurt, sour cream (susu asam), keju, mentega, dan produksi asam-asaman, serta asinan (Lindquist, 1998).

III. Fermentasi Bakteri Asam Laktat
Fermentasi ialah proses baik secara aerob maupun anaerob yang menghasilkan berbagai produk yang melibatkan aktivitas mikroba atau ekstraknya dengan aktivitas mikroba terkontrol (Darwis dan Sukara, 1989). Fermentasi merupakan proses yang telah lama dikenal manusia. Fermentasi adalah proses untuk mengubah suatu bahan menjadi produk yang bermanfaat bagi manusia, seperti fermentasi susu kambing, unta yang terjadi di Sumaria dan Babilonia pada jaman Mesopo-tamia. Hingga saat ini, proses ferementasi telah mengalami perbaikanperbaikan dari segi proses sehingga dihasilkan produk fermentasi yang lebih baik (Tamime dan Robinson, 1999).

Fermentasi memiliki berbagai manfaat, antara lain untuk mengawetkan produk pangan, memberi cita rasa atau flavor terhadap produk pangan tertentu, memberikan tekstur tertentu pada produk pangan. Dengan adanya proses fermentasi yang dilakukan oleh mikroba tertentu diharapkan akan meningkatkan nilai gizi yang ada pada produk fermentasi. Dengan adanya perbaikan mutu produk pangan fermentasi ini diharapkan nilai terima pangan oleh konsumen meningkat.

Pemanfaatan gula yang ada dalam substrat untuk pertumbuhan BAL akan terlihat dengan meningkatnya populasi sel BAL. Gambaran mengenai peningkatan kerapatan sel dari awal fermentasi hingga akhir fermentasi.

Penggunaan gula yang ada dalam substrat untuk pertumbuhan BAL ini dapat terlihat dengan meningkatnya kerapan sel BAL pada substrat. Pemecahan glukosa dalam sel BAL menghasilkan energi untuk aktivitas BAL akan menghasilkan senya-wa lain termasuk asam laktat. Asam laktat yang dihasilkan oleh BAL akan terseks-kresikan keluar sel dan akan terakumulasi dalam cairan fermentasi.

Menurut Tamime & Robinson (1985), fermentasi karbohidrat oleh Streptococcus dan Lactobacillus dilakukan melalui konversi karbohidrat ke glukosa dan kemudian glukosa difermentasi melalui jalur heksosa difosfat untuk memproduksi asam laktat sebagai produk utama. Asam-asam organik yang dihasilkan akan menyebabkan pH susu kedelai menjadi rendah. Semakin banyak sumber gula yang dapat dimetabolisir maka semakin banyak pula asam-asam organik yang dihasilkan sehingga secara otomatis pH juga akan semakin rendah. Hal ini sejalan dengan pendapat Chandan & Shahani (1993) yang menyatakan bahwa asam laktat yang dihasilkan dalam proses pembuatan yogurt dapat menurunkan pH susu.

Yusmarini (1997) menyatakan bahwa selama fermentasi protein akan dihidrolisis menjadi komponen-komponen terlarut guna keperluan pembentukan protein sel mikrobia dan selanjutnya dilaporkan bahwa hanya 20% dari komponen nitrogen terlarut yang dipakai untuk pertumbuhannya.

Aktivitas metabolisme starter (BAL) yang mempunyai suhu pertumbuhan optimum 410 C sampai 45 0 C (Gililand, 1985), sehingga akan meningkatkan berbagai aktivitas metabolisme starter antara lain mengubah laktosa menjadi asam laktat (Burows et al., 1963). Pengubahan laktosa menjadi Asam laktat tersebut menyebabkan menurunnya kadar laktosa dan pH media sehingga pH media mencapai 4,0 sampai 4,5 (Gaudy and Gaudy, 1981).

Dengan meningkatnya jumlah asam yang diekskresikan oleh BAL karena proses akumulasi asam dalam substrat, maka akan meningkatkan keasaman substrat. Peningkatan akumulasi asam dalam substrat ini dapat diketahui dengan penurunan pH substrat. Proses fermentasi oleh BAL di samping meningkatkan kadar asam laktat, keasaman substrat, kerapatan sel BAL juga meningkatnya kadar protein dalam cairan fermentasi.

Salah satu faktor penting dalam pertumbuhan bakteri adalah nilai pH. Bakteri memerlukan suatu pH optimum untuk tumbuh optimal. Pengaruh pH terhadap pertumbuhan bakteri ini berkaitan dengan aktivitas enzim. Enzim dibutuhkan oleh bakteri untuk mengkatalis reaksi-reaksi yang berhubungan dengan pertumbuhan bakteri. Apabhila pH dalam suatu medium/lingkungan tidak optimal, maka akan menggangu kerja dari enzim-enzim tersebut, yang pada akhirnya akan mempengaruhi pertumbuhan bakteri itu sendiri (Pelczar dan Chan, 1986).

Asam-asam organik dari produk fermentasi merupakan hasil hidrolisis asam lemak dan juga sebagai hasil aktivitas pertumbuhan bakteri. Penentuan kuantitatif asam organik pada produk fermentasi adalah penting untuk mempelajari kontribusi bagi aroma sebagian besar produk fermentasi, alasan gizi, dan sebagai indikator aktivitas bakteri (Bevilacqua & Califano, 1989). Asam-asam organik juga sering digunakan sebagai acidulants (bahan pengasam) yang dapat menurunkan pH. Sehingga pertumbuhan mikroba berbahaya pada produk fermentasi akan terhambat (Winarno, 1997).
Lactobacillus termasuk golongan bakteri asam laktat yang sering dijumpai pada makanan fermentasi, produk olahan ikan, daging, susu, dan buah-buahan (Napitupulu et al., 1997). Sejauh ini telah diketahui bahwa keberadaan bakteri ini tidak bersifat patogen dan aman bagi kesehatan sehingga sering digunakan dalam industri pengawetan makanan, minuman dan berpotensi sebagai produk probiotik.

Lactobacillus delbrueckii ssp. bulgaricus atau biasa disebut L.bulgaricus adalah salah satu BAL yang digunakan sebagai starter kultur untuk susu fermentasi, berpotensi sebagai antikolesterol yang diduga karena adanya EPS yang diproduksinya (Pigeon et al., 2002).

Kemampuan bakteri asam laktat dalam menfermentasi berbagai jenis karbohidrat menjadi andalan identifikasi, yang menunjukkan metabolisme BAL yang spesifik (Surono, 2004).
Menurut Sharpe dan Holt (1984) bahwa untuk karakterisasi untuk meyakinkan genus bakteri asam laktat, hal yang perlu dilakukan adalah pewarnaan Gram, uji katalase, uji fermetasi karbohidrat dan uji asam laktat. Umumnya bakteri asam laktat bersifat Gram +, katalase-, mampu menfermentasi karbohidrat yang dibutuhkan untuk pertumbuhannya seperti glukosa yang akan dikonversi menjadi asam laktat (homofermentattif) atau asam laktat, CO2, ethanol dan asam asetat (heterofermentatif). Asam yang diproduksi dari karbohidrat dapat terjadi baik dibawah kondisi aerobik maupun anaerobik.

Jenis BAL yang berbeda akan menghasilkan enzim protease yang berbeda dengan spesifisitas pemecahan yang juga berbeda sehingga akan dihasilkan bermacam-macam peptida. Susunan asam amino yang dihasilkan selama proses fermentasi juga akan mempengaruhi kemampuan peptida dalam mengikat garam empedu. Sugano and Goto (1990) menyatakan bahwa fraksi protein kedelai yang bersifat hidrofobik mempunyai kemampuan mengikat asam empedu sedangkan Kwon et al., (2002) dan Zhong et al., (2007) menyatakan bahwa peptida yang mengandung asam amino hidrofobik pada terminal N mempunyai kemampuan dalam mengikat garam empedu.

IV. Produk Fermentasi Bakteri Asam Laktat
Proses fermentasi susu melibatkan bakteri asam laktat dan menghasilkan produk-produk olahan susu (dairy product) seperti yoghurt, yakult, keju, susu asam, mentega (butter), dan produk sejenis lainnya. Produk fermentasi susu, seperti halnya produk makanan fermentasi lainnya, mereka memiliki rasa yang enak, dan lebih awet dibandingkan susu segar. Hal ini karena proses fermentasi menghasilkan citarasa dan aroma yang enak, serta kandungan nutrisinya lebih baik karena mudah diserap dan dicerna. Bakteri asam laktat yang terlibat dalam proses fermentasi susu juga bisa memberikan manfaat positif bagi kesehatan, khususnya menjaga keseimbangan mikroflora dalam saluran pencernaan. Produk akhir susu fermentasi yang demikian dikenal sebagai makanan fungsional (Surono, 2004).

Dasar fermentasi susu adalah fermentasi komponen gula di dalam susu, terutama lactose menjadi asam laktat dan asam-asam lain. Asam laktat yang dihasilkan dapat memperbaiki flavor dan menurunkan derajat keasaman susu sehingga sedikit mikroba yang dapat bertahan hidup Fermentasi susu dapat menghambat pertumbuhan mikroba patogen dan mikroba perusak susu sehingga masa simpan susu dapat diperpanjang.

Sptreptococcus thermophillus tumbuh optimal pada suhu 45oC sampai 47oC sebaliknya Lactobacillus bulgaricus suhu pertumbuhan optimalnya adalah 37oC. Pada pembuatan yoghurt mula-mula streptococcus thermophillus yang tumbuh kemudian pada saat suhu medium turun baru Lactobacillus bulgaricus yang pada dasarnya bakteri tersebut memiliki kemampuan membentuk cita rasa mengambil alih peran streptococcus thermophillus dan mulai pertumbuhan dengan cepat (Winarno et al., 2003).

A. Yoghurt
Yoghurt merupakan salah satu jenis susu fermentasi. Produk olahan susu ini kaya akan gizi, seperti protein, asam amino, lemak, dan mineral. Oleh karena itu, yoghurt dapat menjadi salah satu sumber nutrisi dan bermanfaat bagi kesehatan. Yoghurt hasil fermentasi susu oleh bakteri asam laktat (BAL). Produk olahan susu ini mempunyai cita rasa khas, tekstur semipadat dan halus, kompak serta rasa asam segar. Mikroba starter dalam pembuatan yoghurt adalah pasangan bakteri Lactobacillus bulgaricus dan Streptococcus thermophilus.

Yoghurt adalah salah satu produk fermentasi berbahan dasar susu. Pada awalnya yoghurt dibuat dari susu binatang ternak seperti susu sapi atau susu kambing dengan bentuk seperti bubur atau es krim. Proses pembuatannya adalah, susu difermentasi menggunakan bakteri Lactobacillus bulgaricus dan Streptococcus termophilus dan didalamnya terdapat kultur aktif bakteri tersebut (Widowati dan Misgiyarta, 2009).

Proses pembuatan yoghurt sebenarnya adalah fermentasi gula susu (laktosa) oleh kultur bakteri untuk menghasilkan asam laktat. Kultur bakteri Lactobacillus bulgaricus dan Streptococcus termophilus yang ditambahkan ternyata memiliki tugas atau fungsi yang berbeda. Flavor atau citarasa yang ada pada yoghurt adalah hasil fermentasi kultur starter Streptococcus termophilus yang berperan besar dalam menghasilkan cita rasa asam. Sedangkan Lactobacillus bulgaricus berperan penting dalam menghasilkan aroma melalui produksi asam laktat dan asetaldehida (Oberman dan Libudzusz, 1985 dalam winarno 2003).

Starter yoghurt yang umum merupakan campuran dua jenis bakteri yaitu Lactobacillus bulgaricus dan Streptococcus thermophillus. Penggunan kedua jenis bakteri ini dimaksudkan untuk mempercepat proses produksi asam, meningkatkan jumlah asam laktat, memperbaiki konsistensi koagulan dan juga meningkatkan citarasa (Muchidin, 1993). Jumlah asam sebagai asam laktat merupakan salah satu parameter awal yang paling penting diamati dalam proses penelitian pembuatan yoghurt, karena inti produk yang diharapkan dalam produk yoghurt adalah kadar asam laktat yang mampu dihasilkan oleh mikroorganisme yang digunakan.

Menurut Lee et al, (1990), yogurt dari susu sapi mengandung asam laktat, asam sitrat, asam piruvat, asam format, asam urat, asam butirat, dan asam orotat.
Asam laktat merupakan hasil metabolisme bakteri pada starter yoghurt (Lactobaccilus bulgaris dan Streptococcus thermophilus) dimana laktosa merupakan sumber karbon utamanya

B. Dadih
Dadih adalah salah satu produk olahan susu yang dibuat dengan cara fermentasi secara alami pada suhu kamar selama 48 jam (Sugitha, 1995). Produk fermentasi ini merupakan makanan tradisional yang cukup terkenal di wilayah Sumatera Barat dan Riau daratan. Bagi penderita “Lactose intolerence”, yaitu orang-orang yang tidak dapat mentolerir laktosa, mengkonsumsi dadih merupakan salah satu alternatif untuk memperoleh manfaat dari susu.
Dadih lebih mudah diserap oleh dinding usus manusia, sehingga dapat dikonsumsi oleh golongan orang yang tidak tahan laktosa, karena kandungan laktosa susu telah turun akibat fermentasi menjadi asam laktat dan meningkatkan nilai gizi susu itu sendiri yang disebabkan mikroorganisme yang aktif dalam fermentasi (Sayuti, 1993).

Dadih kaya akan protein (6,30%), lemak (6,73%) dan vitamin A (80 SI). Hal ini diperkuat oleh pernyataan Sugitha (1995) bahwa untuk dadih yang akan diproduksi diharapkan mempunyai kualitas yang lebih baik dari susu segar. Winarno et al. (1980) juga menambahkan bahwa melalui proses fermentasi, bahan makanan akan mengalami perubahan fisik dan kimia yang menguntungkan seperti flavor, aroma, tekstur, daya cerna dan daya simpan.
Dadih yang berkualitas baik adalah yang berwarna putih bersih (Sugitha et al., 1999). Perbedaannya adalah suhu inkubasi pada pembuatan yoghurt lebih tinggi (450C) dan waktu inkubasinya adalah lebih singkat (4-6 jam) (Dewipadma, 1978). Hasil akhir dari kedua produk susu fermentasi ini sedikit berbeda, yaitu tekstur dadih lebih padat dibandingkan yoghurt, sehingga dadih dapat dikonsumsi bersama nasi sebagai lauk.

Peningkatan koloni bakteri dalam dadih selain didukung oleh kandungan gizi makanan juga dipengaruhi oleh ketersediaan oksigen. Sesuai dengan pendapat Buckle et al. (1987), bahwa faktor utama yang mempengaruhi pertumbuhan mikroorganisme meliputi suplai zat gizi, suhu, air dan tersedianya oksigen. Aroma dari dadih dalam tabung bambu menurut panelis agak tengik, sedangkan aroma pada dadih dalam tabung plastik masih beraroma susu khas dadih. Warna dadih dalam kemasan tabung bambu juga telah berubah menjadi putih kekuningan sementara warna dadih dalam tabung plastik masih putih bersih.

C. Soygurt
Soygurt merupakan produk fermentasi susu kedelai dengan menggunakan bakteri Streptococcus thermophillus dan Lactobacillus bulgaricus yang telah umum dipakai dalam proses pembuatan yogurt (Koswara 1995). Streptococcus thermophillus dan Lactobacillus bulgaricus merupakan spesies mikroba yang esensial dan aktif dalam hubungan simbiotik (Herastuti 1994). Yogurt merupakan salah satu produk makanan yang sangat populer saat ini. Selain sebagai makanan, produk yang dibuat dari susu ini dianggap sebagai produk yang dapat membantu pencernaan, mencegah diare, mencegah peningkatan kadar kolesterol darah yang terlalu tinggi, bahkan dinyatakan dapat membantu melawan kanker (Chandan & Shahani 1993).

Kandungan protein pada susu kedelai adalah 15,27% dan soygurt yang dihasilkan kandungan proteinnya berkisar antara 18,26-22,78%. Penambahan gula cenderung meningkatkan kandungan protein soygurt. Terjadinya peningkatan kandungan protein dari susu kedelai menjadi soygurt disebabkan karena adanya penambahan protein dari mikrobia yang digunakan.
Kandungan lemak pada susu kedelai dan soygurt, susu kedelai mengandung lemak sebesar 9,71% sedangkan soygurt yang dihasilkan mengandung lemak berkisar antara 6,34-7,90%. bahwa terjadi penurunan kandungan lemak pada soygurt yang dihasilkan. Hal ini disebabkan selama fermentasi, lemak akan dihidrolisis menjadi senyawa yang lebih sederhana.

Menurut Wood (1985) di dalam Yusmarini (1997) hidrolisis trigliserida oleh enzim lipase akan menghasilkan asam lemak dan gliserol Menurut Chandan & Shahani (1993), hidrolisis lemak memberikan kontribusi yang kecil terhadap produk yogurt.

D. Kefir
Nama kefir sendiri berasal dari bahasa turki,  yaitu keif, yang terjemaahan bebasnya dalam bahasa inggris adalah good feelig atau perasaan nyaman. Meminum kefir secara berkesinambunganmenurut sejumlah penelitua sangat bermanfaat bagi kesehatan.tubuh yang senantiasa sehat tentu saja menimbulkan perasaan yang nyaman.

Kefir merupakan produk susu yang beraroma asam, alhkhoholik dan karbonat, yang berasal dan banyak di konsumsi di kawasan keukasia. Kefir di buat melalui proses fermentasi mengunakan mikroba bakteria dan yeast. Kefir di hasilkan melalui fementasi alami dari susu sapi dengan kombinasi organisme latkat dan yeast pada bububk kefir. Jenis bakteri dan yeast yang di gunakan dalam pembuatan kefir adalah lactobacilius bulgaricus dan saccharomyces cereviciae. Suhu dan inkubasi yng paling baik dalam pembuatan kefir adalah pada suhu 15 – 220C selama 24 – 36 jam.

E. Koumiss
Koumiss sering di sebut “milk wine” atau “milk brandy” karena merupakan minuman fermentasi beralkhohol dari susu. Nama koumiss tersebut di peroleh dari suku bangsa asia pada jaman kuno, yaitu kumanes atau komans.
Tradisional koumiss di buat dari susu kuda betina dari pengembalaan kuda suku bangsa kumanes yang mempertahankan hidup di daerah stepa asia tengah sampai tahun 1235. Koumiss ini merupakan produk hasil fermentari dari bakteri L. Bulgaricus dan ragi talura penghasil ahkohol. Karena kurangnya produksi susu kuda maka saat ini koumiss sering di buat dari susu sapi, tetapi kedua susu tersebut memiliki komposisi yang tidak sama.

F. Viriegar
Vinegar adalah larutan encer asam asetat yang dihasilkan melalui dua proses fermentasi, yaitu proses fermentasi larutan yang mengandung gula menjadi etanol dan kemudian dilanjutkan dengan proses oksidasi etanol menjadi asam asetat. Viniger adalah nama asing cuka, berasal dari kata vi aigre yang berarti anggur asam. Jika anggur dibiarkan selama beberapa hari di udara terbuka, maka alkohol di dalam anggur akan mengalami fermentasi menjadi asam cuka. Bahan penyusun utama dari viniger adalah asam cuka atau asam asetat, sedangkan bahan penyusun cuka yang lain bervariasi, tergantung bahan dasar pembuatannya.  Produk ini merupakan suatu larutan asam asetat dalam air yang mengandung cita rasa, zat-zat warna dan substansi  yang terekstrak, asam buah, ester, garam organik dari buah yang berbeda-beda sesuai dengan bahan baku yang digunakan.

G. Kecap
Kecap merupakan cairan kental yang mengadung protein yang diperolah dari perebusan kedelai yang telah diragikan, ditambah gula aren, garam dan rempah-rempah. Kecap merupakan salah satu bahan pangan hasil fermentasi yang umum dinegara-negara timur dengan warna coklat, asin atau manis dan berbau tajam dan sering digunakan sebagai bahan pemberi flavour. Kecap yang dihasilkan digolongkan menurut kualitasnya yaitu kecap bermutu satu mempunyai kadar protein minimal 6% dan kecap mutu dua dengan kadar protein 2%.

H. Keju
Keju merupakan salah satu produk olahan susu yang terbentuk karena koagolasi susu oleh rennet ( enzim pencernaan dalam lambung hewan penghasil susu). Bagian dari susu cair yang terkoagulasi membentuk substansi padat seperti gel di sebut curd; dan sejumlah besar air serta beberapa zat terlarut akan terpisah dari curd tersebut whey. Di percayai bahawa dahulu keju di produksi secara tidak sengaja, yaitu ketika bakteri yang ada di dalam susu dan enzim pencernaan ternak bereaksi membentuk curd, dan kemudian terbentuk keju mentah.

Keju sebagai produk dengan bahan dasar susu, merupakan alternatif yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan akan protein hewan. Dalam proses pembutan keju, suhu berperan dalam menetukan lamanya proses dan mempengaruhi jenis keju yang terbentuk sehingga termasuk keju lunak atau keju keras (Radiati, 1990). Starter yang digunakan adalah stater ganda berupa biakan Lactobacillus bulgaricus dan Streptococus thermophillus.
Keju di buat dengan cara mengumpulkan protein susu dengan pertolongan enzim renin. Enzim renin dapat di peeroleh dalam bentuk renet. Dispersi koloidal kalsium fosfokaseinat dapat di gangu dan di rusak oleh enzi renin. Karena kerja enzim tersebut terjadilah penggumpalan sel atau tahu susu. Sebetulnya yang menyebabkan penggumpalan adalah adanya ion kalsium sehinga terjadi endapan kalsium kaseinat.

I. Produk Ikan
Salah satu cara mempertahankan mutu ikan adalah dengan menambahkan bakteri asam laktat (BAL) (Buckle et al., 1985). Menurut Lindgren dan Dobrogosz (1990), penambahan bakteri asam laktat (BAL) dapat memperpanjang masa simpan dan menghambat pertumbuhan bakteri pathogen pada daging dan produk ikan tanpa fermentasi. Aktivitas antimikroba kemungkinan besar disebabkan oleh hydrogen peroksida, asam dan bakteriosin.

J. Produk Tempoyak
Menurut Rahayu dkk. (1995) pada fermentasi tempoyak ditemukan bakteri asam laktat yang diduga adalah Lactobacillus casei sub sp. rhamnosus yang bersifat fakultatif heterofermentatif dan Lactobacillus fersantum yang bersifat heterofermentatif.

K. Susu Nabati Lainnya
Fermentasi dapat menimbulkan citarasa baru dan membentuk tekstur beberapa makanan sehingga mampu memperbaiki penerimaan produk kedelai. Produk fermentasi dari susu kedelai dibuat dengan menambahkan bakteri asam laktat (BAL), namun tidak semua BAL dapat hidup dengan baik pada susu kedelai karena tidak semua BAL menghasilkan enzim α-galaktosidase yang dibutuhkan untuk menghidrolisis rafinosa dan stakiosa yang banyak terdapat pada susu kedelai. Hanya BAL yang mampu memanfaatkan karbohidrat yang ada pada kedelai terutama rafinosa dan stakiosa yang dapat hidup dan berkembang biak dengan baik.

Proses fermentasi susu kedelai oleh bakteri asam laktat dapat meningkatkan kemampuan dalam mengikat sodium taurokolat. Hal ini disebabkan karena selama proses fermentasi enzim protease yang dihasilkan oleh BAL akan menghidrolisis protein menjadi peptida dan sebagian peptida yang dihasilkan bersifat bioaktif yang mempunyai kemampuan dalam mengikat garam-garam empedu. Erdmann, dkk. (2008) menyatakan bahwa peptida bioaktif dapat dihasilkan selama proses fermentasi susu dimana pada saat itu peptida bioaktif akan dibebaskan dari parent protein.

Beberapa komoditi kacang-kacangan telah digunakan sebagai bahan dasar untuk membuat susu yang dikenal sebagai susu nabati. Susu nabati yang umum ditemukan dipasar ialah susu yang dihasilkan dari kedelai, sedangkan susu kacangkacangan lain belum banyak ditemukan. Perlu terobosan untuk membuat susu dan produk dari susu kacangan-kacangan yang lain, antara lain susu kacang hijau, susu kacang tanah, susu kacang panjang, susu kacang tunggak, susu kacang merah, dan lain-lain. Untuk mendapatkan nilai tambah secara ekonomi, peningkatan nilai gizi, daya terima konsumen terhadap produk kacangan-kacangan serta peningkatan ragam pilihan konsumen akan produk kacang-kacangan perlu upayaupaya proses lebih lanjut. Salah satu upaya tersebut ialah dengan cara fermentasi susu kacang-kacangan menggunakan BAL lokal.

V. Peranan dan Dampak Positif Bakteri Asam Laktat
Berdasarkan hasil-hasil penelitian sebelumnya, diketahui bahwa mengkonsumsi produk-produk fermentasi yang mengandung bakteri asam laktat dapat menurunkan kadar kolesterol baik pada hewan maupun manusia (Horison and Peat, 1975; Mann, 1977; Hepner et al, 1979., Rao et al.,1981 Grunewald, 1982; Jasper et al., 1984; Gilliland et al., 1985; Agerback et al., 1995; Akalin et al., 1997).

Bakteri asam laktat dengan strain yang mempunyai kemampuan spesifik akan efektif apabila dapat bertahan dengan kondisi yang ada dalam saluran pencernaan. Oleh karena itu strain dari Bakteri Asam Laktat tersebut harus tahan terhadap garam empedu dan kondisi pH lambung (pH 1-2) apabila dikonsumsi.

Asam laktat merupakan asam organik yang dibutuhkan untuk pertumbuhan. Selain itu asam laktat merupakan senyawa antimikrobia karena mampu menghambat mikrobia lain. Kemampuan asam laktat dalam menghambat dan menekan petumbuhan mikrobia lain yang umumnya adalah patogen, pada akhirnya akan meningkatkan kesehatan saluran cerna dan produktivitas ternak.
Mekanisme penghambatan pertumbuhan bakteri patogen oleh asam laktat dapat melalui berbagai cara. Proses metabolisme yang dilakukan oleh Streptococcus sp akan menghasilkan akumulasi asam laktat dalam medium, sehingga menyebabkan penurunan pH (efek pengasaman) pada medium. Asam laktat terdisosiasi di dalam sel bakteri yang mengakibatkan pH internal sel menurun. Penurunan pH ini selanjutnya dapat mengganggu aktivitas sel bakteri tersebut, diantaranya berkaitan dengan penghambatan pertumbuhan oleh aktivitas enzim seperti yang telah dijelaskan pada pembahasan penurunan pH sebelumnya. Mekanisme efek pengasaman ini dapat menguntungkan bagi pertumbuhan bakteri asam laktat termasuk Streptococcus sp karena BAL telah teruji mampu bertahan dalam pH asam, sedangkan sebagian bakteri patogen tidak dapat bertahan pada pH asam.

Berbagai upaya dilakukan untuk mencegah penyakit kardiovaskuler antara lain dengan  mengkonsumsi makanan yang bersifat hipokolesterolemik. Produk fermentasi susu kedelai merupakan salah satu produk olahan kedelai yang bersifat hipokolesterolemik. Efek hipokolesterolemik dari susu kedelai fermentasi dapat berasal dari peptida hasil hidrolisis protein oleh BAL ( Nisa et al., 2006) maupun dari BAL yang digunakan. Mekanisme hipokolesterolemik dari protein atau peptide dari kedelai diantaranya melalui pengikatan asam atau garam empedu.

Selain untuk dikonsumsi biasa, dadih juga diyakini masyarakat dapat menyembuhkan beberapa penyakit seperti demam, kurang nafsu makan dan membantu meningkatkan fertilitas. Sugitha (1994), juga melaporkan bahwa mengkonsumsi dadih secara teratur dapat menghindari seseorang dari penyakit jantung dan tumor.

Antimutagenik oleh Bakteri Asam Laktat dari Dadih. Banyak hasil penelitian melaporkan antimutagenik produk-produk susu fermentasi. (Hosoda et al, 1992; Hosono et al, 1990a; Surono & Hosono 1995; Usman & Hosono 1998). Menurut Hosono et al, (1988) dan van Boekel et al, (1993) melaporkan bahwa antimutagenik dari susu fermentasi disebabkan oleh kandungan kasein yang terdapat dalam produk tersebut. Namun demikian persentase pengahambatan mutagenisitas kalsium sangat rendah dibanding dengan sel bakteri asam laktat (Usman & Hosono 1998).

BAL dalam dadih telah dilaporkan mempunyai efek antimutagenik terhadap berbagai jenis mutagen seperti N-nitrosodimethylamine (NDMA), N-nitroso-pyrrolidine (NPIP) dan N-nitroso-piperidine (NPIP); senyawa mutagen ini banyak dijumpai pada bahan pangan dan minuman (Hosono et al, 1990a).

Dadih juga mempunyai antimutagenik terhadap mutagen yang muncul akibat pemanasan makanan pada suhu tinggi misalnya pada terasi (Surono & Hosono 1996) dan tauco (Usman & Hosono 2003) yang dipanaskan pada suhu lebih dari 1000C selama lebih dari 1 jam. Mekanisme antimutagenik dari BAL dadih dengan cara mengikat mutagen dan karsinogen di dalam saluran pencernaan terutama dalam usus halus dan kolon.

Yoghurt atau susu fermentasi kaya akan berbagai zat gizi yang diperlukan tubuh, terutama bagi penderita lactose intolerance, arteriosklerosis, kelainan metabolisme seperti diabetes, dan tekanan darah tinggi. Produk olahan susu ini cukup mudah dibuat sehingga berpeluang menambah sumber pendapatan keluarga.

Sifat yang menguntungkan dari bakteri Lactobacillus dalam bentuk probiotik adalah dapat digunakan untuk mendukung peningkatan kesehatan. Bakteri tersebut berperan sebagai flora normal dalam sistem pencernaan. Fungsinya adalah untuk menjaga keseimbangan asam dan basa sehingga pH dalam kolon konstan. Heprer et al., (1979) menyatakan bahwa pemberian suplemen yoghurt selama satu minggu, dapat menurunkan serum kolesterol pada manusia. Yoghurt dan susu menurunkan kolesterol setelah menginduksi hypercholesterolemia kelinci.

Yoghurt lebih besar memberi pengaruh dari pada susu. Lactobacillus mempunyai potensi yang besar sebagai produk probiotik karena keunggulannya dibanding bakteri asam laktat lainnya (Davis dan Gasson. 1981; Muriana dan Klaenhammer, 1987). Selanjutnya Annonym (2000) mengatakan bahwa Lactobacillus plantarum dan L. casei dapat aktif pada pH rendah dan menghasilkan asam laktat dalam jumlah banyak sehingga pada makanan ternak dapat membantu menyimpan energi. Napitupulu et al. (2000) melaporkan bahwa Lactobacillus menghasilkan anti bakteri.

Filtrat Lactobacillus dapat menghambat pertumbuhan bakteri patogen Streptococcus, Staphylococcus aureus, dan Escerichia coli, bahkan filtrat yang sudah disimpan selama 6 bulan memiliki kemampuan sama. Lactobacillus juga mampu menghambat pertumbuhan bakteri lain yang merugikan atau patogen (Tagg et al., 1976; Chassy, 1987). Goldin dan Gorbach (1992) mengatakan bahwa beberapa substansi antimikroba yang dihasilkan bakteri probiotik, misalnya L. acidophilus menghasilkan acidotin, acidophilin, bacteriocin, lactocidin, L. bulgaricus (bulgarican), L. plantarum (lactolin), L. brevis (lactobullin, lactobrevin), dan L. reuteri (rauterin).

Efek-efek kesehatan yang telah dibuktikan karena konsumsi susu fermentasi (termasuk yoghurt) adalah memacu pertumbuhan karena dapat meningkatkan pencernaan dan penyerapan zat-zat gizi, dapat mengurangi atau membunuh bakteri jahat dalam saluran pencernaan, dapat menormalkan kerja usus besar (mengatasi konstipasi dan diare), memiliki efek anti kanker, dapat mengatasi masalah lactosa intolerance, berperan dalam detoksifikasi dan mengatasi stres, serta mengontrol kadar kolesterol dalam darah dan tekanan darah (Robinson, et al., 1999).

VI. PENUTUP
A. Simpulan
Dari hasil pemaparan makalah tersebut diatas, maka dapat diambil kesimpulan :
1)    Bakteri asam laktat (BAL) secara fisiologi dikelompokkan sebagai bakteri Gram positif, bentuk kokkus atau batang yang tidak berspora dengan asam laktat sebagai produk utama fermentasi karbohidrat. Secara tradisional, BAL terdiri dari empat genus yaitu Lactobacillus, Leuconostoc, Pediococcus dan Streptococcus. Sebagai contoh genus Streptococcus telah direorganisasi menjadi Enterococcus, Lactococcus, Streptococcus dan Vagococcus.
2)    Fermentasi ialah proses baik secara aerob maupun anaerob yang menghasilkan berbagai produk yang melibatkan aktivitas mikroba atau ekstraknya dengan aktivitas mikroba terkontrol.
3)    Proses fermentasi susu melibatkan bakteri asam laktat dan menghasilkan produk-produk olahan susu (dairy product) seperti yoghurt, yakult, keju, susu asam, mentega (butter), dan produk sejenis lainnya seperti dadih, tempoyak, produk ikan, alcohol.
4)    Mengkonsumsi produk-produk fermentasi yang mengandung bakteri asam laktat dapat menurunkan kadar kolesterol, demam, kurang nafsu makan dan membantu meningkatkan fertilitas.
5)    Efek-efek kesehatan yang telah dibuktikan karena konsumsi susu fermentasi (termasuk yoghurt) adalah memacu pertumbuhan karena dapat meningkatkan pencernaan dan penyerapan zat-zat gizi, dapat mengurangi atau membunuh bakteri jahat dalam saluran pencernaan, dapat menormalkan kerja usus besar (mengatasi konstipasi dan diare), memiliki efek anti kanker, dapat mengatasi masalah lactosa intolerance, berperan dalam detoksifikasi dan mengatasi stres, serta mengontrol kadar kolesterol dalam darah dan tekanan darah.


B. Saran
Dalam pembuatan makalah ini tentunya masih kurang sempurna baik secara penyusunan, penyajian maupun isi/materi yang spesifik yang terkait peranan bakteri asam laktat (BAL) dalam bidang pangan. Oleh karena itu perlu adanya referensi terbaru atau perbaruan referensi dari beberapa jurnal terkait yang lebih mengarah pada topik makalah tersebut.

Keterbatasan lain adalah materi yang disajikan masih luas dan belum spesifik pada satu produk permasalahan, sehingga penjabaran makalah juga sangat luas, hal ini karena masih minimnya referensi dari jurnal internasional maupun jurnal nasional yang diperoleh untuk membuat topik makalah tersebut.

VII.  REFERENSI

Anonim., 2004. Yoghuart, Jurusan Teknologi pangan dan gizi-Institut Pertanian Bogor,  Bogor Jawa Barat.

Anonim., 2005. Yoghurt, Minuman Kesehatan Tubuh, Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian.
Warta penelitian dan pengembangan pertanian

Agustina, Wawan., dan Rahman, Taufik., 2010. Pengaruh Variasi Konsentrasi Sukrosa dan Susu Skim Terhadap Jumlah Asam sebagai Asam Laktat Yoghurt Kacang Hijau (Phaseolus radiatus L.), Balai Besar Pengembangan Teknologi Tepat Guna Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.

Prosiding Seminar Nasional Teknik Kimia “Kejuangan”  Pengembangan Teknologi Kimia untuk Pengolahan Sumber Daya Alam Indonesia, Yogyakarta, 26 Januari 2010.  ISSN 1693 – 4393

Agustina, Wawan., dan Andriana, Yusuf., 2010. Karakteristik Produk Yoghuart Susu Nabati Kacang Hijau (Phaseolus radiatus L.), Balai Besar Pengembangan Teknologi Tepat Guna, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Subang Jawa Barat.

Prosiding Seminar Nasional Teknik Kimia “Kejuangan”  Pengembangan Teknologi Kimia untuk Pengolahan Sumber Daya Alam Indonesia Yogyakarta, 26 Januari 2010. ISSN 1693 – 4393

Astuti., dan Rahmawati, Ana., 2010. Asimilasi Kolesterol dan Dekonjugasi Garam Empedu Oleh Bakteri Asam Laktat (BAL) dari Limbah Kotoran Ayam Secara In Vitro, Jurusan Pendidikan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Yogyakarta. Yogyakarta Daerah Istimewa Yogyakarta.

Efendi, Raswen., dan Yusmarini., 2004. Evaluasi Mutu Soygurt yang dibuat dengan Penambahan Beberapa Jenis Gula, Laboratorium Teknologi Hasil Pertanian Fakultas Pertanian  Universitas Riau, Pekanbaru Riau Sumatera.
Jurnal Natur Indonesia Volume 6 (2): 104-110 (2004).  ISSN 1410-9379

Fardiaz, Srikandi., Sri Laksmi Jenie, Betty dan Solihati, Ati., 1997. Isolasi dan Seleksi Bakteri Asam Laktat yang Bersifat Anti Mikroba dari Sauerkraut, Teknologi dan Industri Pangan Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Gajah Mada Yogyakarta.

Buletin Teknologi dan Industri Pangan, Volume VIII No 3. Tahun 1997.
Effendi, Supli., 2009. Teknologi Pengolahan dan Pengawetan Pangan, Alfabeta  Bandung Jawa Barat.

Bartono., 2000. Pengantar Pengolahan Makanan,  Pertja,  Jakarta Daerah Khusus Ibukota.

Hardiningsih, Riani., Nonta, Refina Napitupulu, Rostiati., dan Yulinery, Titin., 2006. Isolasi dan Uji Resistensi Beberapa Isolat Lactobacillus pada pH Rendah (Isolation and resistance test of several isolates of Lactobacillus in low pH), Bidang Mikrobiologi, Pusat Penelitian Biologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Bogor Jawa Barat.
Jurnal Biodiversitas  ISSN: 1412-033X

Malaka, Ratmawati., dan Laga, Amran., 2005. Isolasi dan Identifikasi Lactobacillus bulgaricus Strain Ropy dari Yoghurt Komersial, Jurusan Teknologi Hasil Pertanian, Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin Universitas Hasannudin Makasar, Makasar Sulawesi Selatan.
Sains & Teknologi, April 2005 Volume 5 No. 1: 50 – 58.  ISSN 1411-4674.

Nurhidayati, Tutik., 2003. Pengaruh Konsentrasi Enzim Papain dan Suhu Fermentasi Terhadap Kualitas Keju Cottage. Program Studi Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam–Institut Teknologi Surabaya, Surabaya Jawa Timur.
KAPPA (2003) Volume  4  No.1  13-17.  ISSN 1411-4046.

Pato, Usman., 2003. Artikel Ulas Balik Potensi Bakteri Asam Laktat yang diisolasi dari Dadih untuk Menurunkan Resiko Penyakit Kanker, Pusat Penelitian Bioteknologi, Universitas Riau, Pekanbaru, Riau Sumatera.
Jurnal Natur Indonesia Volume 5 (2) : 162-166 (2003). ISSN 1410-9379.

Ristiarini, Susana., Kuswardani, Indah., Adikaryo, M.I.L., dan Wahyuni, M., 2001. Pola Suksesi Mikroflora Alami Pada Fermentasi Nira Siwalan Dan Pemanfaatannya Dalam Minuman Fermentasi (Succession Pattern of Indegeneus Microflora in Nira Siawalan Fermentation and Its Usage in Fermented Drink), Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Katolik Widya Mandala, Surabaya
Biota Volume VI (1) : 1-8, Februari 2001.  ISSN 0853-8670

Satria Nur, Hasrul., 2005. Pembentukan Asam Organin Oleh Isolat Bakteri Asam Laktat Pada Media Ekstrak Daging Buah Durian (Durio zibethinus Murr.), Program Studi Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Lambung Mangkurat, Banjarbaru Kalimantan Selatan.
BIOSCIENTIAE Volume 2 Nomor 1  Januari 2005.

Prosiding Seminar Nasional Penelitian, Pendidikan dan Penerapan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Yogyakarta, 15 Mei 2010

Sisriyenni, Dwi., dan  Zurriyati, Yayu., 2004.  Kajian Kualitas Dadih Susu Kerbau Di Dalam Tabung Bambu dan Tabung Plastik, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Riau, Pekan Baru, Riau Sumatera.

Suardana, I Wayan,., Suarsana, I Nyoman., Sujaya, I Nengah., dan Gede Wiryawan, Komang.,  2007. Isolasi dan Identifikasi Bakteri Asam Laktat dari Cairan Rumen Sapi Bali Sebagai Kandidat Biopreservatif (Isolation and Identification of Acid Lactic Bacteria From Bali Cattle‘s Grastic Fluid As A Potential Cadidate of Biopreservative), Laboratorium Ilmu Hayati, Pusat Antar Universitas Institut Pertanian Bogor, Bogor Jawa Barat.
Jurnal Veteriner Desember 2007 Volume 8 No. 4 : 155 – 159.

Supardi, Imam., dan Sukamto., 1999. Mikrobiologi Dalam Pengolahan dan Keamanan Pangan, Alumni, Bandung Jawa Barat.

Tim Mikrobiologi, Diktat Ajar., 2009. Mikrobiologi Pangan. Politeknik Negeri Pontianak, Pontianak Kalimantan Barat.

Widowati, Sri., dan Misgiyarta., 2001.  Efektifitas Bakteri Asam Laktat (BAL) dalam Pembuatan Produk Fermentasi Berbasis Protein/Susu Nabati, Balai Penelitian Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian.

Winarno, FG., dan Fernandez, Ivon., 2007. Susu Dan Produk Fermentasi, Mbrio Press, Bogor Jawa Barat.

Winarno, FG., 2007. Teknobiologi Pangan, Mbrio Pree, Bogor Jawa Barat.

Yusmarini, Indrati, R., Utami, T., dan Marsono, Y., 2010. Kemampuan Susu Kedelai yang Difermentasi oleh Lactobacillus plantarum 1 Dalam Mengikat Asam Empedu (Ability of Fermented Soymilk by Lactobacillus plantarum 1 in Bile Acids Binding), Fakultas Teknologi Pertanian  Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta Daerah Istimewa Yogyakarta.
Majalah Farmasi Indonesia Volume 21 (3), 202 – 208, 2010.